Sebuah Pertemuan

Sebuah Pertemuan

Date : July 19th, 2011Category : UncategorizedAuthor : nur15 Comments

Hari ini…untuk pertamakalinya di sepanjang sejarah hidupnya, juniorku yang paling kecil, Hasan, masuk sekolah TK A. Hari ini merupakan hari yang diimpikannya. Sejak beberapa bulan yang lalu sang junior didaftarkan di TKIT Al-Ausath, TK dengan sistem pengajaran full day school, masuk jam 08.00 s/d 16.00.

Ada peristiwa yang pernah membuat diri saya dan istri begitu panik dikarenakan begitu antusiasnya sang junior ingin sekolah. Nyaris saja aku kehilangan sang junior dalam waktu yang lama, kalau saja Allah tidak menolongku.

&&&

Ahad, tanggal 10 Juli 2011, waktu dhuhur saya bergegas pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Biasanya Hasan selalu ikut walaupun tidak saya ajak, tapi siang itu dia tidak ikut, kelihatannya lebih asyik dengan mainannya.

Sepulang dari masjid, saya dapati istri dan dua anak perempuan saya dalam keadaan shalat berjamaah. Saya tidak menemui Hasan di dalam rumah saya. Paling-paling di rumah temannya, begitu pikirku. Saya tidak punya firasat apa-apa dengan tidak adanya Hasan.

“Hasan di mana mas?” Selesai shalat istriku bertanya padaku.

“Lho…koq tanya aku to…Tadi kan ga ikut aku???”

“Iya…tapi tadi minta dipakaikan sepatu, trus bawa tas, pamitan mau sekolah, tadi salaman sama saya, sama mbak-mbaknya…,” Istriku menceritakan tentang pamitannya Hasan.

“Kelihatannya ga nyusul aku tu…coba tak lihat di tetangga dulu..,” Bergegas saya menuju tetangga samping rumah. Saya tidak mendapati Hasan di sana, tuan rumah juga tidak tahu-menahu tentang Hasan. Saya segera menuju ke masjid tempat saya shalat berjamaah, tapi hasilnya juga nihil. Kemudian saya menuju mushola di mana saya juga sering berjamaah ke sana, tapi tetap nihil. Saya coba menuju ke rumah teman-teman Hasan satu RT, tapi tak kudapatkan juga. Jangan-jangan…Hasan benar-benar mau ke sekolah seperti yang dipamitkan kepada istri dan anak-anak saya.

Kulangkahkan kaki kembali ke rumah, berharap Hasan sudah kembali, tapi tetap tidak saya temui…kemana dia. Istriku mulai panik, karena saya pulang dengan tidak membawa kabar baik.

Kuteruskan pencarianku dengan lingkup yang lebih luas, saya menggunakan motor agar lebih cepat. Kutelusuri gang-gang kampung satu persatu hingga saya berpapasan dengan istriku yang juga ikut mencari keberadaan Hasan. Istriku naik motor dan di depannya ada anak kecil, temannya Hasan, ternyata dia tahu keberadaan Hasan beberapa saat yang lalu. Oik, nama anak itu, dia yang bilang tadi bertemu Hasan yang mau berangkat sekolah, karena setia kawan, Oik mengantarkan hasan yang berjalan kaki menuju sekolah, dengan mengikutinya memakai sepeda onthel.

“Kamu antar sampai mana Ik…?”

“Sampai jauh bulik… trus aku kembali pulang dan Hasan terus berjalan,” begitu keterangan Oik.

Duh…Saya hitung berapa waktu yang berlalu dari ketika saya shalat sampai saya bertemu Oik…setengah jam lebih, waktu yang cukup buat Hasan sampai ke sekolahnya…ya…kalau sampai…kalau tidak sampai…pikiranku mulai macam-macam. Jarak rumahku dan sekolah kurang lebih 2 km, melalui jalan kampung dengan banyak percabangan dan sebelum sampai ke sekolah harus menyeberang sebuah jalan propinsi dengan lalu lintas yang super sibuk dan kecepatan tinggi. “Ya Allah, jagalah anakku,”Hanya itu doa pengharapanku.

Kupacu roda motorku menuju jalan raya dekat sekolah anakku, karena saya ingin memastikan tidak ada kecelakaan terjadi. Alhamdulillah…tidak ada bekas atau tanda-tanda kecelakaan kutemui. Saya teruskan pencarian sampai lokasi sekolah, yang ada hanya keramaian pengunjung taman air yang ada di dekat sekolah. Kemana lagi harus kucari Hasan?

Kususuri lagi jalan yang kulewati tadi dengan berharap Hasan belum sampai ke sekolah, aku sudah bingung mau kucari kemana anakku? Lapor polisi…menyebar pamflet…mengumumkan di media masa…entahlah…aku bingung, tapi aku terus berpikir sambil tetap celingak-celinguk dari satu gang ke gang lainnya.

Hingga Hp saya berdering, dari istriku…kuharap berita baik.

“Mas, kamu dimana?”

“Di depan SMP Al-Firdaus, gimana…Hasan ketemu?”

“Alhamdulillah ketemu, ini di depan pondok Assalaam…,”Plooong…alhamdulillah, sebuah jawaban yang melegakan. Segera aku menuju ke tempat yang ditunjukkan istriku.

Hasan…Rupanya Allah mengabulkan doaku, Allah menjaganya dan mengembalikan Hasan dengan utuh. Sebuah pertemuan yang teramat mengharukan, tak terasa air mata ini menetes karena bahagia.

&&&

Mbak Ika,pemilik warung makan “Apa Nama” yang asli Pontianak, siang itu seperti biasa dia menunggui warungnya dengan ditemani dua karyawatinya.  Warung makan mbak Ika berada di lingkungan kampus UMS sebelah barat jalan utama.

Ada sesuatu yang mengusik hati keibuan mbak ika ketika itu, saat melihat di sebelah timur jalan ada seorang anak kecil berjalan seorang diri dengan begitu tenangnya. Tak terlihat ada seorangpun yang menemani. “Berani betul anak itu,”Pikir mbak Ika.Segera mbak Ika menyuruh salah satu karyawatinya untuk mendekati dan mengajak anak itu untuk menuju ke warung makannya.

Bergegaslah salah satu karyawati mbak Ika menghampiri anak itu.

“Aaadik…Mau kemana…?” Sapaan bersahabat agaknya membuat anak itu tidak merasa takut.

“Ke sana,” Anak itu berkata sambil menunjuk arah depan.

“Ke sana ke mana?”

“Ke sana ke sekolah,”Masih sambil menunjuk arah depan.

“Lha ini dari mana..?”

“Dari sana…,”Anak itu menunjuk arah belakang.

“Yuk…ikut tante aja ya, nanti diantar tante ke sana,” Tanpa perlawanan anak itu mengikuti karyawatinya mbak Ika menuju ke warung makannya. Anak itu bernama Hasan, begitu pengakuannya. Wajah anak itu tampak kecapekan, penuh debu bercampur keringat. Minuman yang dibuatkan mbak Ika tak lama-lama ngendon di gelas, sebentar saja sudah berpindah ke dalam perut Hasan. Suapan nasi ayam dari mbak Ika juga lahap dimakan Hasan.

Kehadiran Hasan juga menjadi perhatian penjual kebab di sebelah warung mbak Ika, mas Prasongko namanya. Mas Koko, biasa ia dipanggil ikut nimbrung menanyai Hasan.

“Dah…sekarang hasan pulang ya…nanti tante antar, atau minta diantar siapa?”

“Diantar mas koko aja,” Hasan meminta diantar mas koko. Mbak Ika dan Mas koko tidak tahu rumahnya Hasan, tapi mereka berharap hasan bisa diajak kerja sama sebagai penunjuk jalan. Akhirnya, diantarlah Hasan oleh mas Koko, tak lupa mbak Ika memasukkan sebungkus nasi ayam dan es susu putih ke dalam tas Hasan.

Agaknya Hasan cukup hapal dengan jalan pulang sehingga Mas Koko tidak kesulitan untuk mencari jalan yang pas. Tapi, sesampai di depan pondok assalaam mas koko dikejutkan dengan suara seorang ibu bersepeda motor yang berteriak-teriak memanggilnya.

“Mas…mas…hey…itu anakku…mau kamu bawa kemana…?” Ibu itu tampak panik dan tatapan curiga.

“Saya mau mengantar anak ini pulang bu…,”

“Siapa ini dik?”Mas koko memastikan bahwa wanita di depannya adalah ibunya Hasan dengan bertanya kepada Hasan.

“Ibu,” Jawaban Hasan menyakinkan , bahwa itu ibunya…

Sebuah pertemuan yang begitu mengharukan dan membahagiakan, melebihi kebahagiaan seseorang yang kehilangan untanya di tengah padang pasir yang begitu luas, kemudian ia menemukan untanya kembali.

&&&

Syukur alhamdulillah saya ucapkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena Dialah yang menjaga Hasan melalui mbak Ika dan mas Prasongko. Terima kasih juga pada Mbak Ika beserta staff, juga mas Prasongko atas pertolongannya. Jazakumullahu khairan katsira, semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s