FASE-FASE KEHILANGAN

Sedih rasanya ketika kita kehilangan sesuatu, apalagi sesuatu itu adalah orang yang kita cintai, atau suatu benda yang begitu berarti buat kita. Atau suatu harapan yang selalu menjadi tumpuan hidup kita. Saya yakin kita semua pasti sudah pernah mengalaminya. Seberapa lama kita mengalami kesedihan, tentunya tiap-tiap orang berbeda-beda dalam hal ini. Banyak faktor yang membuatnya jadi berbeda.

Belum lama ini saya juga mengalami suatu kehilangan. Blog sayawww.zizzahaz.wordpress.com dinonaktifkan oleh pihak wordpress. Sedih rasanya ketika itu, saya harus kehilangan banyak tulisan, dan semua yang kubangun selama dua tahun lenyap seketika.

Reaksi dari kehilangan begitu beragam, tapi rata-rata yang kutemui mereka terlihat begitu sedih, walaupun ekspresinya berbeda-beda. Seperti yang kualami kemarin, ketika saya menerima pasien kecelakaan, kondisinya kritis, ada trauma di thorax (dada), abdomen (perut), pelvis(panggul), dan vertebra (tulang belakang). Setelah dilakukan penanganan darurat hampir 1 jam akhirnya pasien meninggal. Vonis meninggal dunia ini menimbulkan respon yang berbeda-beda. Sang Ibunda histeris, tak sadarkan diri, sang ayah tampak tegar dengan mencium kening anaknya.“Selamat jalan ya mas xxx(nama saya rahasiakan),”Suara itu terucap dari lesan sang ayah dengan nada kesedihan. Buliknya yang seorang dokter juga tampak histeris dengan terus meminta untuk dilakukan tindakan intubasi dan resusitasi. Padahal barusan sudah kami lakukan. Resusitasi adalah tindakan untuk menghidupkan kembali atau memulihkan kembali kesadaran seseorang yang tampaknya mati sebagai akibat berhentinya fungsi jantung dan paru, yang berorientasi pada otak (Tjokronegoro, 1998). Sedangkanintubasi menurut Hendrickson (2002), adalah memasukkan suatu lubang atau pipa melalui mulut atau melalui hidung, dengan sasaran jalan nafas bagian atas atau trakhea.

Kehilangan tidak hanya kehilangan orang yang kita cintai. Kehilangan dapat berupa benda mati, hewan, anggota tubuh kita, vonis mematikan semacam kangker atau HIV/AIDS, atau yang agak nyleneh, kehilangan pacar, karena saya sering juga menemui pasien-pasien dengan kondisi jari-jari tangan kaku nafas tersengal-sengal, dan hysteria, yang ini biasanya terjadi pada anak-anak muda yang hobbynya pacaran. Ngakunya sakit asma, tak tahunya baru putus pacar.

Elizabeth Kubler-rose,1969.h.51, membagi respon berduka dalam lima fase, yaitu :

  1. Fase Pengingkaran ( denial ). Reaksi pertama seseorang yang mengalami kehilangan adalah syok, tidak percaya atau mengingkari kenyataan bahwa kehidupan itu memang benar terjadi, dengan mengatakan “ Tidak, saya tidak percaya itu terjadi “ atau “ itu tidak mungkin terjadi .” “Anakku belum mati, dokter… tolong dikasih oksigen, ” atau “Tidak mungkin ini kangker, ini hanya benjolan kecil, kenapa kakiku harus diamputasi?”  ”Apa dosaku, aku adalah orang yang rajin beribadah, tidak mungkin ini terjadi padaku…”Pada fase ini tindakan menghibur agar bersabar kurang memberi respon yang baik, berikan pelukan yang bersahabat dan belaian yang lembut tanpa kata-kata. Tapi hanya untuk MAHRAM lho.
  2. Fase Marah (Anger). Fase ini dimulai dengan timbulnya suatu kesadaran akan kenyataan terjadinya kehilangan. Seseorang menunjukkan rasa marah yang meningkat yang sering diproyeksikan kepada orang lain atau pada dirinya sendiri. Tidak jarang ia menunjukkan perilaku agresif, berbicara kasar, menolak pengobatan, menuduh dokter-perawat yang tidak pecus. “Rumah sakit ini rumah sakit yang besar, mumpuni, katanya alatnya lengkap, tapi kenyataannya…anakku meninggal dunia di sini,”Kadang ada ungkapan marah seperti ini. “Tidak usah cuci darah…saya ke aternatif saja, buat apa cuci darah kalau tidak menyembuhkan ginjalku,” Ungkapan menolak pengobatan yang seperti ini sering saya dapati.
  3. Fase Tawar-menawar (bargaining). Seseorang telah mampu mengungkapkan rasa marahnya secara intensif, maka ia akan maju ke fase tawar-menawar dengan memohon kemurahan pada Tuhan. Seseorang akan berdoa memohon kepada Tuhan agar ditunda sakitnya, dengan berandai-andai. ” Ya Allah, seandainya Engkau mengembalikan kakiku, maka aku akan berinfak yang banyak…” “Seandainya kemarin aku melarang anakku bepergian, tentu tidak jadi seperti ini.”
  4. Fase Depresi. Seseorang pada fase ini sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang sebagai pasien sangat penurut, tidak mau bicara, menyatakan keputusasaan, perasaan tidak berharga, ada keinginan bunuh diri, dsb. Gejala fisik yang ditunjukkan antara lain : menolak makan, susah tidur, letih, dorongan libido manurun. Pada fase ini merupakan fase menentukan untuk kembali pada pemulihan. Ada orang yang begitu lama pada fase ini, bahkan sampai berakhir dengan bunuh diri. Lihat saja orang-orang yang kehilangan kekuasaan sampai harus mengakhiri hidupnya dengan membunuh dirinya sendiri. AWAS… pada fase ini syetan begitu giat membisikkan hal-hal yang bisa menjerumuskan seseorang kepada perbuatan dosa. Ajak orang yang kehilangan dengan berbagai aktifitas yang bisa mengalihkan dia memikirkan orang yang meninggalkannya.
  5. Fase Penerimaan (acceptance). Fase ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan. Pikiran yang selalu berpusat kepada obyek atau orang yang hilang akan mulai berkurang atau hilang. Seseorang telah menerima kehilangan yang dialaminya. Gambaran tentang obyek atau orang yang hilang mulai dilepaskan dan secara bertahap perhatiannya akan beralih kepada obyek yang baru. Kalaupun ia teringat kembali dengan sesuatu yang meninggalkannya, ia tidak akan bersedih yang berlebihan.

Tidak ada patokan yang jelas, berapa lama seseorang mengalami fase-fase ini. Fase ini juga tidak mutlak akan selalu dilewati semua orang, kadang dari fase 1 langsung ke fase 3, atau tanpa melalui fase 1 langsung ke fase 2, atau malah fase-fase ini saling tumpang tindih, tidak jelas fasenya karena bercampur aduk.

Namun kadang saya juga menemui orang-orang yang tidak melalui semua fase itu. Seperti bapak yang saya temui kemarin, tampak sekali kesabaran dan keikhlasannya walaupun ditinggalkan anak yang dicintainya.

Semoga kita juga menjadi salah satu dari sekian banyak orang-orang yang bersabar ketika musibah pertama kali datang kepada kita.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s