Awas, Gagal Panen Lho…

Ramadhan sudah memasuki 10 hari kedua. Namun, tahun kemarin petani di daerah Surakarta yang meliputi Klaten, Boyolali, Sukoharjo, Sragen, Karang Anyar dan sekitarnya banyak yang gagal panen. Tanaman padi yang menjadi andalan mereka harus bertekuk lutut  karena dihabiskan hama wereng coklat yang ganas. Berbagai cara yang prosedural sampai metoda coba-coba diterapkan untuk membasmi wereng ini, namun hasilnya nihil. Wereng tak bisa dimatikan, yah…menangis deh…gagal panen sudah terbayang, padahal sebelumnya petani begitu optimis dengan usahanya. Lalu, apa hubungannya Ramadhan dengan petani…dengan tanaman padi…dengan hama wereng coklat?

Gagal panen… hal ini tentu bukan hal yang dicita-citakan para petani. Ketika pertama kali mereka menabur benih, dalam benak mereka pasti mendambakan panen dengan hasil melimpah di penghujung usaha mereka. Namun tidak mudah untuk mendapatkan hasil panen yang melimpah ini.Banyak halangan merintang, terutama dari berbagai hama yang siap membuyarkan impian petani. Keong mas, wereng coklat, belalang, ulat, burung, gulma, dan banyak lagi akan menjadi musuh yang harus dibasmi. Tidak ada istilah berleha-leha untuk menjaga tanaman dari hama ini. Bahkan ketika tanaman hampir siap panenpun tidak ada kamus terlena bagi petani, karena lena sedikit saja akan berakibat gagal panen.

Ketika musim panen tiba, hasil melimpah akan didapatkan ketika petani berhasil melewati semua rintangan yang menghadang. Usaha yang melelahkan tidak hanya berbuah lelah saja, namun akan bernilai yang  sangat tinggi.

Hasil panen melimpah

hasil panen melimpah

Ramadhan, adalah bulan bercocok tanam bagi kita. Bulan ini kita menjadi petani yang menabur benih tiap hari, dengan menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar sampai terbenam matahari.Tapi, sesungguhnya hasil panen kita bukan hanya lapar dan dahaga, ada yang lebih dari itu.Kalau hanya lapar dan haus, tidak usah menunggu Ramadhan, di luar Ramadhanpun bisa, nanti akan dapat bonus turun berat badan 10 kg.

Banyak keutamaan yang dapat di raih di bulan Ramadhan, ibarat tanaman maka keutamaan ini harus ditanam dengan benar, bak tanaman petani yang bisa terjadi gagal panen bila tidak dirawat dan dijaga dengan baik.

Ramadhan sudah berjalan sampai hampir pertengahan bulan, marilah kita bermuhasabah diri, instropeksi dengan tanaman yang kita tanam. Adakah hama yang malah kita pelihara sehingga merusak tanaman kita, ataukah tanaman itu sudah menunjukkan tanda-tanda berbunga sebagai harapan mendapatkan hasil panen yang memuaskan. Jangan terlena dengan hasil yang kita raih selama ini, ingatlah dengan sebuah hadits yang sering dibacakan di majlis-majelis pengajian,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”(HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi -yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya-)

Alangkah ruginya usaha kita, bila puasa kita hanya bernilai layaknya orang yang diet untuk menurunkan berat badan. Lalu, bagaimana caranya agar tanaman puasa kita akan mendapatkan hasil panen yang memuaskan? Yang kita lakukan adalah, kenali hama yang menyerang tanaman puasa kita, lalu jaga tanaman kita dari hama yang merusak itu, sepanjang waktu, karena lena sedikit saja hancurlah tanaman kita.

Awas…inilah hama yang akan menyerang tanaman kita :

  • Hama dusta (az zuur)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903)

Apa yang dimaksud dengan az zuur? As Suyuthi mengatakan bahwa az zuur adalah berkata dusta dan menfitnah (buhtan). Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang merupakan konsekuensinya yang telah Allah larang. (Syarh Sunan Ibnu Majah, 1/121, Maktabah Syamilah)

  • Hama Perkataan lagwu (sia-sia) dan hama rofats (kata-kata porno)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Dalam Fathul Bari (3/346), Al Akhfasy mengatakan,

اللَّغْو الْكَلَام الَّذِي لَا أَصْل لَهُ مِنْ الْبَاطِل وَشَبَهه

Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.”

Dalam Fathul Bari (5/157), Ibnu Hajar mengatakan,

وَيُطْلَق عَلَى التَّعْرِيض بِهِ وَعَلَى الْفُحْش فِي الْقَوْل

“Istilah Rofats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji.”

Atau dengan kata lain rofats adalah kata-kata porno.

Itulah di antara perkara yang bisa membuat amalan seseorang menjadi sia-sia. Betapa banyak orang yang masih melakukan seperti ini, begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kotor, dusta, sia-sia dan menggunjing orang lain.

  • Hama Maksiat secara umum

Hama maksiat secara umum sering kita jumpai di lingkungan kita. Saya contohkan yang nyata adalah asmara subuh di Pariaman. Lihat di lingkungan kita, akan kita dapatkan kejadian seperti di pariaman, seperti acara ngabuburit yang sarat maksiat juga sering kita jumpai.

Sekali lagi jangan sia-siakan puasa kita. Janganlah sampai kita hanya mendapat lapar dan dahaga saja, lalu kita lepaskan pahala yang begitu melimpah dan tak terhingga di sisi Allah dari amalan puasa kita tersebut.

Isilah hari-hari kita dengan amalan yang bermanfaat, bukan dengan perbuatan yang sia-sia atau bahkan mengandung maksiat. Janganlah kita berpikiran bahwa  karena takut berbuat maksiat dan perkara yang sia-sia, maka lebih baik diisi dengan tidur. Lihatlah suri tauladan kita memberi contoh kepada kita dengan melakukan banyak kebaikan seperti banyak berderma, membaca Al Qur’an, banyak berzikir dan i’tikaf di bulan Ramadhan. Manfaatkanlah waktu kita di bulan yang penuh berkah ini dengan berbagai macam kebaikan dan jauhilah berbagai macam maksiat.

Semoga Allah memberi kita petunjuk, ketakwaan, kemampuan untuk menjauhi yang larang dan diberikan rasa kecukupan.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s