ILMU DUNIA vs ILMU AKHERAT

Menurut anda, lebih tinggi mana nilainya antara ilmu dunia dan ilmu akhirat?Saya rasa jawaban Anda akan berbeda-beda tergantung persepsi diri sendiri. Tapi menurut saya pribadi,  ilmu akhirat tetap lebih tinggi nilainya daripada ilmu dunia walaupun ilmu akhirat tidak mendatangkan keuntungan dunia yang besar, atau menjadikan omzet berlimpah, atau menghadirkan lembaran-lembaran rupiah menjadi menumpuk tebal. Ilmu akhiratlah yang akan menghantarkan kita mengetahui cara bertemu Allah Azza wa Jalla sang Pencipta kita dengan benar. Ilmu akhiratlah yang akan menuntun kita nanti ketika memasuki perjalanan sesudah kehidupan di dunia. Dilihat dari sudut ini jelaslah bahwa ilmu akhirat lebih tinggi nilainya.

Tapi, saya menjumpai manusia seringkali menghargai lebih rendah terhadap ilmu akhirat, seakan-akan ilmu akhirat lebih rendah daripada ilmu dunia. Saya contohkan di tempat perusahaan saya bekerja. Setiap bulan Juli Rumah Sakit Islam YARSIS tempatku bekerja berulang tahun, jadi banyak sekali acara kegiatan yang dilakukan. Dari seminar, bakti sosial, kitanan masal, dan lomba antar karyawan. Ada beberapa lomba yang ditandingkan pada bulan Juli kemarin, dari olah raga futsal, bulu tangkis, kemudian lomba pidato berbahasa Inggris, Lomba Paduan Suara Mars dan Hymne YARSIS, dan lomba karaoke. Walaupun hanya dalam lingkup karyawan YARSIS, tapi peminatnya lumayan banyak, karena adanya iming-iming hadiah yang lumayan besar untuk ukuran karyawan di Rumah Sakit YARSIS. Juara 1 akan membawa pulang dhuit minimal 1 juta rupiah. Lumayan, bisa buat menambah kebutuhan hidup.

Bulan Ramadhan, Rumah sakit tempat saya bekerja juga melakukan berbagai kegiatan amalan Ramadhan. Salah satu kegiatannya adalah lomba antar karyawan, yaitu lomba cerdas cermat pengetahuan Islam dan lomba hapalan Al-Qur’an (Tahfidz). Tapi sayangnya, hadiah lomba ini nilainya jauh di bawah lomba ketika ulang tahun Rumah Sakit. Hadiah tertinggi adalah lomba Tahfidz kategori lancar, dimana peserta harus hapal surat Al-Mulk dan satu surat pilihan dari juz 28 dan 29. Juara 1 hadiahnya adalah uang pembinaan senilai Rp.600 ribu, jauh di bawah lomba karaoke yang mencapai angka 1 juta lebih. QS Al-Mulk ternyata nilainya lebih rendah daripada Lagu Widurinya Bob Tutupoli dan Tuhan Bimbo. Begitu jelas manusia memang menilai ilmu akherat lebih rendah daripada ilmu dunia.

Lihat juga di sekeliling kita. Misalnya ketika terjadi hajatan pernikahan. Tak jarang mereka sang empunya hajatan mengadakan hiburan dengan mengundang grup campursari atau organ tunggal. Untuk menghadirkan hiburan ini dibutuhkan dana jutaan rupiah, dan sang tuan rumah rela-rela saja untuk mengeluarkan. Di samping itu, tuan rumah juga mengundang seorang ustadz yang akan mengisi pengajian di sela-sela hajatan berlangsung. Tapi sungguh ironis, untuk grup campursari atau organ tunggal tuan rumah rela merogoh kocek jutaan rupiah agar bisa menghadirkannya, tapi untuk sang ustadz, cukup dengan amplop tertutup berisi fulus ratusan ribu rupiah sebagai tanda ucapan terima kasih. Apa harusnya tidak kebalik ya? Yah…memang seperti itulah kenyataannya.

Rasa Lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, kadang hal inilah yang menjadikan alasan kenapa kita jadi kurang menghargai ilmu akherat. Ketika kita memberikan nilai yang lebih terhadap ilmu akherat, manusia akan mengatakan bahwa itu akan merusak keikhlasan kita. Ketika ustadz mengisi pengajian terus mendapatkan uang ucapan terimakasih yang begitu tinggi, orang-orang akan mempermasalahkannya. “Ustadz kan berdakwah untuk agama, kenapa menerima bayaran yang tinggi atas usaha dakwahnya, jangan-jangan dakwahnya tidak iklhas karena Allah.”Begitulah  kebanyakan manusia membicarakan sang ustadz yang mau menerima bayaran tinggi. Atau ketika hadiah hapalan al-qur’an dilipatkan menjadi 2 juta, trus pesertanya menjadi melimpah, maka ada saja komentar yang muncul. “Pantas saja pesertanya banyak, lha hadiahnya besar…2 jeti.” Kata-kata yang sering keluar dari mulut yang bisa diartikan semua orang ikut lomba hapalan bukan karena Lillahi ta’ala, tetapi karena hadiahnya yang 2 juta.

Memang ilmu akherat tidak bisa dihargai dengan dunia, dengan uang, dengan souvenir, tapi apakah salah bila kita menghargai para penuntut ilmu akherat dengan memberinya dunia yang bernilai tinggi. Kalau masalah pahala biarlah Allah yang memberi, tapi bagi kita manusia, menghargai mereka ya dengan dunia, dengan uang, atau dengan souvenir berharga semacam cincin emas misalnya. Jangan sampai kita memberikan honor untuk ustadz yang mengajari anak kita membaca Al-Qur’an lebih rendah daripada honor guru les matematika anak kita. Kalau kita mampu beri dia honor yang lebih tinggi. Ustadz juga manusia, ia juga punya keluarga yang harus dihidupi, ia rela meluangkan waktunya untuk mendidik kita ilmu akherat, tidak salah bila kita mengganti waktunya yang hilang itu dengan memberinya sesuatu yang bernilai dunia. Kalau bukan kita umat Islam, siapa lagi yang akan menghargai ilmu akherat dengan nilai yang tinggi.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s