Vonis Seumur Hidup

Sore itu, seorang ibu muda menangis di hadapan teman saya, raut wajahnya terlihat begitu tegang. Vonis hemodialisa atau cuci darah 2x seminggu seumur hidup bagi suaminya benar-benar membuat dia syock, seakan-akan masih belum percaya dengan keadaan ini. Sebetulnya, vonis ini sudah pernah diberikan oleh beberapa dokter sebelumnya, tetapi karena belum percaya, dia dan suami mencoba berusaha berobat ke metoda alternatif. Menurutnya orang yang cuci darah 1x, selanjutnya akan ketagihan dan menjadi ketergantungan. Alih-alih memperoleh kesembuhan dengan metode alternatif, kondisi sang suami malah semakin memburuk, badan menjadi bengkak, sulit bernapas, kesadaran menurun. Akhirnya, kembalilah dia ke metoda medis, dan dengan sangat terpaksa anjuran cuci darah harus dia setujui.

Vonis cuci darah seumur hidup bagi penderita gagal ginjal stadium akhir memang seringkali ditanggapi dengan rasa tidak percaya dan mungkin rasa marah. Bayangan umur yang tinggal sebentar atau banyaknya biaya yang harus dikeluarkan membuat jiwa pasien dan keluarga menjadi terguncang. Fase awal ketika vonis ini dijatuhkan memang rata-rata seperti itu, tidak percaya dan marah ( baca artikel sayafase-fase kehilangan untuk mengetahui tentang ini).

Gagal ginjal stadium akhir atau stadium lanjut memang sudah tidak bisa diobati atau disembuhkan seperti semula. Dalam medis, penanganan untuk ginjal yang sudah terlanjur rusak ini hanya bisa dilakukan dengan terapi pengganti ginjal atau bahasa kerennya RENAL REPLACEMENT THERAPY. Ya…ginjal yang sudah rusak itu harus diganti dengan ginjal lain.
Sementara ini baru ada tiga cara untuk terapi pengganti ginjal, yaitu :

  1. Hemodialisis, atau lebih sering disebut cuci darah.
  2. Continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD), ini merupakan tehnik cuci darah dengan menggunakan membran dinding perut pasien sebagai pencuci darah. Tapi tehnik ini jarang diminati karena lebih repot dalam penggunaannya.
  3. Transplantasi ginjal atau cangkok ginjalMahalnya biaya dan sulitnya mendapatkan pendonor merupakan hal yang membuat transplantasi sulit dilakukan.

Saya pernah service motor di bengkel, ketika itu sang mekanik menemui saya mengatakan kalau ada satu onderdil yang harus diganti. Saya mencoba menawar agar onderdil itu diperbaiki saja, tapi sang mekanik tetap tak bergeming dan mengatakan onderdilnya sudah terlanjur rusak sehingga harus diganti. ya…seperti itulah diibaratkan, organ tubuh kita juga bisa rusak dan tidak bisa diperbaiki, bisanya hanya dengan diganti.

Banyak sekali pasien beranggapan salah tentang gagal ginjal stadium akhir ini. Mereka mengira hanya butuh beberapa kali cuci darah, untuk selanjutnya ketika kadar racun dalam darah sudah normal, mereka akan bebas cuci darah. Mereka beranggapan kadar racun yang mulai menurun merupakan pertanda ginjal mereka sudah mulai membaik dan sembuh.Ini anggapan yang salah, kadar racun yang menurun merupakan hasil kerja dari mesin cuci darah, bukan hasil kerja ginjal yang telah rusak. Mereka biasanya akan absen dari cuci darah karena merasa sudah sembuh, tapi itu hanya akan berlangsung beberapa saat saja, biasanya 2 minggu sudah kembali lagi untuk minta cuci darah, karena ketika mereka meninggalkan cuci darah, kadar racun dan cairan dalam tubuh akan meningkat lagi.

Harapan untuk bisa sembuh dan bebas cuci darah kadang membuat penderita gagal ginjal beralih ke metoda alternatif, walau hal ini kadang mengantarkan penderita ke dalam jalur bunuh diri karena kadang metoda alternatif sangat bertentangan dengan metoda medis.

Seperti yang dialami Pak SA (nama saya singkat), di awal-awal vonis seumur hidup ini, beliau pernah tidak disiplin cuci darah 2x seminggu. Harapan untuk sembuh membuat beliau beralih ke metoda alternatif karena metoda medis menurutnya sudah tidak menjanjikan. Berbagai metoda alternatif beliau tempuh, setiap ada orang yang menyarankan ke suatu tempat atau suatu metoda, selalu ia jalani, tak peduli akan mengeluarkan banyak biaya.Tetapi hasilnya tetap nihil, Pak SA datang ke rumah sakit lagi tengah malam dalam keadaan sulit bernapas karena banyaknya air yang tertimbun di paru-paru. Akhirnya hemodialisa atau cuci darah menjadi hal rutin yang dilakukan sampai saat ini.

Juga Pak Kas, pria asal makasar ini jauh-jauh ke Solo karena ingin berobat agar gagal ginjal yang dideritanya bisa sembuh. Di Makasar beliau mendapatkan vonis cuci darah dari dokter setempat. Baru cuci darah 2x langsung absen cuci darah selama 4 bulan. Berat badannya meningkat drastis bukan karena gemuk, tetapi karena tertimbunnya cairan dalam tubuh berhubungan dengan fungsi ginjal yang menurun. Beliau berharap di Jawa akan mendapatkan jawaban yang berbeda, tatapi hal itu juga tidak beliau dapatkan. Dokter di jawa juga menjatuhkan vonis yang sama. Kecewa?… Yah, mungkin beliau kecewa, beliau mengatakan kalau dokter tidak mengobati ginjalnya, yang diobati hanya darah tingginya saja atau mual-mualnya saja atau hanya menyarankan cuci darah saja. Obat yang diminum sama sekali tidak ada obat ginjalnya, begitu menurutnya.

Sebetulnya masih banyak cerita tentang ini, tapi tidak mungkin semua bisa saya tulis di sini.

Semoga Allah mengkaruniakan kita kesehatan yang tiada tara harganya dan kita bisa mengambil pelajaran dari mereka para penderita gagal ginjal.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s