Hidup… Antara Takdir, Banyak Pilihan, dan Sebab Akibat

Bepergian dengan bus Antar Kota Antar Provinsi, ada suatu tempat yang membuat saya tidak betah dan berharap segera berlalu dari situ. Terminal… ya… di terminal saya seringkali mendapatkan gangguan kecil dari para penjual asongan atau para pengamen. Bukan gangguan fisik sebetulnya tetapi kata-kata mereka seringkali menyakitkan untuk didengarkan. Belum lama ini saya juga harus bepergian dengan jasa bus AKAP, jadi harus melewati terminal, tempat yang tidak dapat saya hindari. Namun saya berusaha menikmati semua itu… tidak ada gunanya berkeluh kesah saja, toh dengan berkeluh kesah masalah juga tidak bisa terselesaikan. Saya mencoba memperhatikan kehidupan mereka para pedagang asongan, pengamen, pengemis dan saya mendapatkan pelajaran berharga dari mereka. Dari situlah saya tahu tentang keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sa’at saya datang dan mendapat tempat duduk di bus po Aneka Jaya, pertama yang mendatangi saya adalah penjual koran, di tangannya setumpuk koran masih belum terjual. Agaknya hari ini rizkinya baru seret, sehingga masih banyak dagangan di tangannya. Kemudian mulai berdatangan penjual minuman kemasan dari yang dingin sampai yang netral, penjual tahu Rp 1000 per buah, penjual jajanan ampyang, penjual bolpoin Rp 5000 dapat 12 biji. Tak ketinggalan sang pengamen dengan suara sumbangnya berusaha menghibur para penumpang. Krincing demi krincing didapat sang pengamen dari para penumpang, hingga penuh kedua tangannya dipenuhi logam limaratusan… wow… lumayan juga sang pengamen dari satu lagu sumbangnya berhasil terkumpul koin lebih dari Rp 5000.

Sungguh Allah subhanahu wa Ta’ala Maha Adil. Lihatlah… Allah mentakdirkan mereka dengan berbagai pekerjaan, tidak dalam satu pekerjaan. Allah tidak menjadikan mereka pengamen semua, atau penjual tahu semua, atau penjual koran semua. Di sinilah takdir Allah membuat mereka harus memilih…memilih satu takdir di antara banyak takdir yang menghampiri mereka. Yah… mereka harus memilih… seorang tukang koran memilih menjadi tukang koran, tentu dia punya alasan tersendiri kenapa menekuninya. Kenapa ia tidak memilih menjadi penjaja tahu saja, karena dengan menjadi penjaja tahu bila jajanannya tidak laku bisa dimakan sendiri. Kalau menjadi penjual koran…? Kalau tidak laku terjual kan tidak mungkin dimakan sendiri. Atau kenapa tidak memilih jadi pengamaen saja, walau suaranya sumbang dan tidak punya modal gitar, tapi dengan wajah dibuat sedikit sangar akan mendapatkan koin yang lumayan banyak. Coba bandingkan dengan menjadi penjual koran, muter-muter dari satu bus ke bus yang lain paling hanya laku 2, itupun untungnya tidak seberapa. Iya kan….

Iya… Takdir Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjadikan ia penjual koran, tapi sesungguhnya ia bisa memilih di antara banyak takdir yang ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuknya. Saya memang kesulitan untuk memahami takdir tapi saya punya anggapan bahwa takdir adalah merupakan hubungan sebab akibat, takdir adalah sebuah pilihan dari banyak pilihan. Menurut saya takdir bukanlah satu jalan saja sehingga kita tidak bisa memilih atau lebih tepatnya seperti wayang… dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai sang dalang yang akan memainkan kita semaunya…dan kita hanya menunggu perintah sang dalang untuk memerankan sebagai apa saja. Menurut saya takdir juga bukan sesuatu yang tidak ada, sehingga kita bebas melakukan apa saja tanpa dikontrol oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Banyak sekali seseorang yang berhasil dalam karirnya menolak akan takdir dengan mengatakan kalau keberhasilan itu atas hasil kerja kerasnya sendiri, bukan karena anugerah takdir Allah. Seperti halnya Qarun di jaman Nabi Musa alaihissalam yang mengingkari takdir-Nya. Yah… takdir adalah kita harus memilih, tapi dalam hal tertentu kita memang tidak punya pilihan seperti memilih rahim yang akan menjadi tempat tinggal kita ketika janin atau jenis kelamin yang akan menjadi milik kita. Tapi seiring waktu berjalan di kehidupan kita, kita harus memilih, memilih takdir-Nya.

Banyak orang beranggapan bahwa takdir tidak dapat diubah sehingga pesimis dalam menghadapi hidup. “Allah mentakdirkan saya jadi pengamen…ya sudah, jalani saja”. Begitu kadang pernyataan sebagian orang menggambarkan nasib atau takdir yang dialaminya. Lalu apa gunanya doa dan ikhtiar bila takdir itu tidak dapat diubah? Bukankah Allah sendiri yang menganjurkan kita untuk berdoa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَقَالَ رَبُّڪُمُ ٱدۡعُونِىٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ

“Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Aku kabulkan”

(QS. Al-Mukmin / Ghafir : 60).

Dengan doa berarti kita meminta sesuatu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meminta agar diubah jalan hidup kita. Yang ditakdirkan sakit menjadi sembuh, yang miskin menjadi kaya, yang tidak punya anak menjadi punya anak. Kalau memang takdir hanya diciptakan satu jalan, buat apa kita susah-susah berusaha menjadi kaya, mending di rumah tidur dan menunggu datangnya takdir berikutnya.

Kemudian Rasulullah Shalalahu alaihi wa salam juga mengajarkan shalat istikharoh, yaitu shalat untuk memantapkan hati pada suatu pilihan di antara banyak pilihan. Jelas kan bila kita berjalan di banyak jalan takdir, lalu kita diberi hak untuk memilihnya. Yang tentunya kita harus memilih takdir yang terbaik untuk kita, dimana hal terbaik diukur dari sisi akhirat, bukan keduniaan. Walaupun menjadi pengamen bisa mendatangkan banyak koin atau krincing, tapi dari sisi keberkahan lebih berkah menjadi penjaja arem-arem dan tahu sebungkus Rp 1000. Jangan salah dalam memilih takdir, karena semua itu tergantung pada diri kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِہِمۡ‌ۗ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

(QS Ar ra’d (13) : 11)

Takdir memang pelik…kadang saya juga sulit memahaminya, namun hubungan sebab akibat dan memilih takdir sering saya gunakan untuk menyemangati hidup ini

Terus…. Siapkan Anda untuk memilih takdir Anda, takdir yang terbaik dari Allah Subhanahu wa ta’ala, terbaik menurut ukuran akherat.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s