Rizki Sudah Ada yang Mengatur

“Sambung-menyambung menjadi satu, itulah SOLO MEEN… Solo kota Pengamen. Selamat sore Assalamualaikum para penumpang bus PO Muncul…bla…bla…bla…dll…dst…,”Demikian sebuah petikan kalimat pengantar salah seorang dari tiga orang pengamen yang beroperasi di sebuah bus AKAP PO MUNCUL jurusan Pacitan-Solo yang kunaiki. Haduuh… sudah pengamen keberapa nih yang turun naik di bus yang kunaiki ini. Yang tadi turun dari pintu belakang, yang ini naik dari pintu depan. Begitu seterusnya seakan-akan tak ada habisnya, padahal persediaan krincing di kantong sudah menipis.

Ada sebuah kalimat pengantar dari pengamen yang membuat saya mendapatkan pelajaran darinya. Kira-kira begini ucapannya,” Mohon ma’af bapak ibu… Mungkin saya bukan orang pertama yang mengamen di bus ini… mungkin yang keberapa kalinya… tapi saya yakin rejeki ada yang mengatur… jadi saya menerima saja seberapa saya memperoleh rejeki…” Entah ucapannya benar tulus dari hati atau tidak, tapi saya lihat pengamen ini penampilannya begitu sopan, ucapannya halus, ketika menerima krincing juga ucapan terimakasihnya begitu terlihat. Kebetulan saya duduk di 3 deret kursi dari belakang sehingga saya bisa melihat seberapa banyak ia mendapatkan krincing. Lumayan banyak juga krincingnya, padahal ia bukan pengamen yang pertama masuk bus ini. Betul kata dia, Rizki sudah ada yang mengatur, sehingga ia yakin akan mendapatkannya.

Saya perhatikan para pengamen kali ini lebih tertib dalam beroperasi sesama para pengamen. Dulu saya sering melihat mereka berebut bus untuk mengamen, mereka berlarian dahulu-mendahului hingga yang pertama bisa masuk dialah yang berhak untuk mengamen. Tak jarang terjadi perkelahian di antara mereka. Kalau dulu mereka sering memaksa dalam meminta uang, tapi sekarang walau masih ada kutemui tapi sudah jarang.

Tapi saya perhatikan, sepertinya mereka masih tetap bersaing, namun persaingannya lebih sehat, mungkin dengan keyakinan “Rizki sudah ada yang mangatur” maka mereka lebih bisa membawa diri. Kalau dulu rata-rata mereka berkata-kata kasar, tubuh bertato, wajah tampak sangar, tapi sekarang hanya sebagian kecil saja yang kutemui seperti itu. Karena bersaing, mereka juga punya berbagai model dalam menarik simpati para penumpang agar menyisihkan sedikit rizki untuk mereka. Ada yang hanya modal tepuk tangan dan nyanyian yang tidak jelas apa yang dinyanyikan. Yang seperti ini ya mendapatkan krincing, tapi sedikit sekali, paling karena ada yang kasihan saja. Ada yang berkelompok 3 orang dengan membawa gitar dan ketipung dari pralon, walau suaranya tidak begitu bagus, tetapi karena ada alunan musik yang begitu kompak, maka menjadi enak didengar. Dan hasilnya… tidak hanya krincing, tapi lembaran ribuan juga mampir ke tangan mereka. Saya yakin yang mengasih uang bukan karena kasihan tapi memang karena terhibur. Ada yang bermodal gitar, tetapi menggunakan kata-kata pengantar yang sangat sopan, lagunya juga sopan, kata-katanya seakan-akan bisa membius penumpang bus untuk segera merogoh kantong bajunya mencari sedikit uang yang akan diberikan kepadanya. Banyak sekali sebetulnya cara mereka untuk menarik simpati.

Yups…. itulah sekelumit kehidupan para pengamen yang kutemui, mereka bisa memberi contoh pada kita tentang bagaimana menghadapi persaingan hidup dalam meraih rizki Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kadang kita terlalu egois dan individualis untuk menjadi pemain tunggal dalam sebuah usaha. Ketika ada usaha sejenis yang sama dengan usaha kita mulai bermunculan, kita kadang merasa tersaingi, sehingga dengan berbagai cara kita berusaha menjegalnya agar usaha kita tetap menjadi usaha tunggal. Atau dalam suatu profesi… saya sering melihat profesi kedokteran sering mengalami hal ini. Di suatu daerah kadang hanya ada satu dokter spesialis tertentu, sehingga dia menjadi dokter tunggal tidak ada saingannya. Dia selalu berusaha menjegal kedatangan dokter spesialis yang sama dengan dia agar tidak bisa bekerja di daerah itu. Tapi dengan seiring waktu, hal itu takkan mungkin bisa terus selamanya, pesaing akan selalu datang dengan tanpa bisa dicegah. Yakinlah “Rizki sudah ada yang mengatur” dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengaturnya, hanya kita yang harus siap menyongsongnya dengan berbagai cara yang sehat, dengan selalu menjaga mutu dan selalu berinovasi.

Di Solo, banyak sekali tempat untuk usaha dengan usaha yang sama dalam satu lokasi. Pasar buah di Purwosari, Penjual bunga untuk acara kematian di pasar kembang, penjual tanaman hias di pasar nongko, penjual barang bekas dan barang antik di pasar Triwindu, dan masih banyak lagi. Mereka semua menjual barang yang sejenis dan semua mendapatkan rizki dari barang yang sejenis itu.Ya…Rizki memang diatur Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga mereka tidak pernah terlihat berebut pembeli dan menjatuhkan satu dengan yang lainnya.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s