Menunggu Istri Melahirkan

Menegangkan. ya… seperti itulah gambaran ketika menunggui istri melahirkan.Betapa tidak…sa’at itu istri berjuang mengorbankan jiwa raga demi mengeluarkan sang bayi dari rahimnya. Erang kesakitan karena perut yang menegang, kadang diselingi dengan jeritan yang memilukan. Namun semua itu akan berganti menjadi senyum kegembiraan ketika sang bayi bisa lahir dengan selamat, tentunya sang istri juga selamat pula.

Tidak semua suami bisa menunggui istri ketika melahirkan. Yang saya maksud menunggui istri ketika melahirkan bukan seperti  cuplikan acara sinetron di tipi-tipi itu lho. Di sinetron itu biasanya sang suami menunggu di luar ruang melahirkan dengan wajah tegang dan cemas, sambil mondar-mandir, diselingi suara erang istri dan bidan yang memimpin persalinan. Kemudian terdengar suara bayi menangis,  adegan berikutnya muncullah sang suster dari balik pintu ruang persalinan, dengan senyum manisnya sang suster memanggil sang suami mengabarkan keadaan bayi lahir selamat. “Alhamdulillah” kedua tangan sang suami mengusap wajah sebagai tanda syukur. Terus terang bukan itu yang saya maksud.

Yang saya maksud dengan menunggu istri melahirkan adalah sang suami menunggu di samping istri, memotivasinya, bahkan ikut bidan atau dokter menolong proses kelahiran bayi dari sang istri. HHmmm, bagaimana para suami… berani nggak?

Ada banyak pelajaran yang bisa kita dapat dari hal ini. Kita akan tahu betapa besarnya perjuangan sang istri dalam melahirkan bayi. Sangat tidak adil bila para suami hanya terima bersih tanpa tahu sama sekali perjuangan sang istri. Dari situ kita juga tahu bahwa kitapun dilahirkan dari rahim seorang wanita, yaitu ibu kita. Kita akan sadar bahwa perjuangan ibu terhadap kita ternyata begitu besar.

Di samping itu motivasi dari suami juga begitu dibutuhkan istri. Saat itu istri dalam keadaan butuh perhatian. Rasa sakit yang begitu menyiksa akan terasa lebih ringan bila ada suami yang selalu mendengar keluhan istri. Emosi sang istri begitu labil, sehingga kadang tak terkontrol. Rasa sakit yang begitu sangat, bisa menyebabkan emosi tidak terkendali dan kadang gerakan dan ucapan istri di luar batas kewajaran. Peran sang suamilah yang akan meredakan emosi sang istri.

So… ketika semua telah berlalu… akan ada rasa puas bisa mendampingi sang istri dalam proses kelahirannya. Ada rasa puas ketika kita ikut tenaga medis memberikan aba-aba agar istri kita mengejan, ada rasa puas ketika dorongan tangan kita di atas perut istri berhasil mengeluarkan kepala sang bayi dari jalan lahir, yang selanjutnya akan ditarik oleh bu bidan. Alhamdulillah… lihatlah betapa leganya istri kita, ketika bayi lahir dengan selamat… dan… lihatlah ketika sang istri tertidur pulas karena kelelahan yang sangat akibat dari proses kelahiran. Berilah waktu untuk dia beristirahat, jangan ganggu tidurnya agar segera pulih tenaganya.

Bagi para suami… siapkan mental anda untuk hal ini, karena tidak semua orang berani melakukannya. Kalau memang tidak berani, jangan memaksakan diri, nanti bisa-bisa pasiennya jadi dua, yang satu istri anda dan yang satunya adalah anda sendiri yang pingsan karena tidak kuat melihat darah dari sang istri.

Bila anda siap dan berani melakukannya, yang anda lakukan adalah bersikap tenang dan jangan ikut panik ketika istri anda panik. Kepanikan anda akan berakibat bertambah paniknya sang istri. Jangan banyak interupsi terhadap bidan atau dokter karena mereka juga butuh ketenangan dalanm melakukan tindakan tanpa intervensi dari pihak lain. Tugas Anda hanya sebagai motivator sang istri, dan mitra kerja dari bidan atau dokter.

Untuk para istri juga jangan terlalu memaksa suami anda, bila suami anda tidak kuat melakukannya. Bisa-bisa konsentrasi Anda malah terpecah, karena melihat suami anda jatuh terkulai pingsan.

Kebetulan untuk kelahiran anak-anak saya, saya selalu menunggunya kecuali hasan. Zidni dan Izzah saya menungguinya, bahkan ketika Husein lahir dengan operasi cesar, saya juga ikut menunggui istri saya. Saya ikut masuk ke ruang operasi, pakai baju operasi, tutup kepala, masker, menyaksikan bagaimana istri saya dibius lewat tulang belakang, ditelentangkan, diiris perutnya, dan keluarnya husein dari dalam perut juga saya saksikan. Luar biasa perjuangan istri saya untuk mengeluarkan  buah hati.

Selanjutnya… saya tunggu cerita anda  para suami istri dengan kelahiran anak anda mendatang.

gambar dari sini

12 thoughts on “Menunggu Istri Melahirkan

  1. Saya juga mendampingi istri waktu melahirkan dan memang luar biasa perjuangan seorang istri waktu melahirkan Pak. Wanita memang hebat,🙂
    —————————-
    ainul harits : betul mas… wanita hebat, karena perjuangan mereka melebihi laki-laki, keikhlasan mereka juga luar biasa.

    Suka

  2. Berhubung belum punya istri, jadi belum pernah pengalaman menunggu istri malahirkan.. tapi pernah pengalaman dituduh udah punya istri hanya gara-gara nungguin kakak sepepu yang melahirkan di rumah sakit bersalin

    Suka

  3. anak pertama sampi ketiga aku nungguin di luar ruangan, baru yang keempat aku dipersilakan masuk membantu persalinan istriku.. sungguh sangat luar biasa istriku dengan keikhlasannya bisa melahirkan permataku..

    Suka

  4. pengalaman saya anak pertama sampai ketiga nungguin di luar ruang, baru ana yang keempat diperbolehkan sama bu bidan untuk melihat langsung persalinannya, salut buat istri yang sennatiasa ikhlas

    Suka

  5. walau belum beristri, saya dulu waktu kecil pernah melihat sepupu saya melahirkan, karena umur saya belum ada 10 tahun waktu itu, jadi saya gak tau dan gak mau tau, tapi kl diingant2 sekarang, ternyata benar2 perjuangan seorang Ibu….

    Suka

  6. taufik rahmat hidayat berkata:

    Alhamdulillah mas sekarang sy lagi nunggu anak ke dua di cesar. Tp tetap sj takut ga kuat melihat istri melahirkan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s