Juniorku Senang Menghisap Jari

Husein, juniorku yang paling junior sudah memasuki usia 5 bulan. Seperti kakak-kakaknya yang terdahulu, husein mempunyai kebiasaan yang hanya ada di usianya, yaitu kebiasaan menghisap apa-apa yang dipegangnya. Kalaupun tidak ada yang dipegang, ia akan menghisap jari tangannya sendiri, bahkan meraih kakinya sendiri kemudian dihisapnya dengan asyik. Nikmat sekali kelihatannya ia.

Menghisap jari pada bayi kadang menjadikan orang tua kawatir hal itu akan menjadi kebiasaan yang menetap sampai dewasa. Orang tua kadang melarang dengan cara menarik tangan bayi atau menjauhkan benda-benda yang potensial dihisap bayi. Tapi bayi kelihatannya tidak akan berhenti menghisap dan selalu mencari obyek untuk bisa menghisap.

Sesungguhnya hal ini adalah hal yang wajar dan normal untuk bayi. Hal ini tidak perlu dikawatirkan akan menjadi kebiasaan karena akan hilang dengan sendirinya dengan bertambahnya usianya nanti. Menurut teori psikologi hal ini hanya akan berlangsung selama 18 bulan saja.

Teori yang kondang di dunia psikologi tentang fase hisap menghisap ini pernah dipaparkan oleh SIGMUND FREUD. Sigmund Freud adalah seorang Austria keturunan Yahudi dan pendiri Aliran Psikoanalisa dalam Psikologi. Teorinya banyak jadi pegangan di dunia psikologi, namun banyak juga jadi kontroversi. Saya juga mengakui itu karena menurut saya kadang dunia psikologi itu aneh, tidak masuk akal. Menurut SIGMUND FREUD, perkembangan kepribadian berhubungan erat dengan pelaksanaan penyaluran rangsang rasa menyenangkan. Fase-fase perkembangan kepribadian terdiri dari fase oral, fase anal, fase falus, fase laten dan fase genital.

Fase oral dimulai dari umur 0 – 18 bulan. Bayi manusia diciptakan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam keadaan yang tidak berdaya. Berbeda dengan bayi pada species lain, conto9h saja anak sapi atau anak ayam, mereka terlahir lebih mandiri daripada bayi manusia. Bayi manusia begitu tidak berdaya, tidak bisa mencari kebutuhan hidupnya secara mandiri. Ia selalu menanti sodoran makanan yang dimasukkan ke dalam mulutnya.

Pada awal perkembangannya, bayi tidak bisa membedakan apa-apa yang dimasukkan ke dalam mulutnya, yang jelas ia akan terus menghisap sampai puas dan terpenuhi kebutuhannya. Semakin lama bayi akan bisa membedakan antara puting susu, dot, atau kempong gabug seperti punyanya timmy di kartun shaun the sheep. Fase menghisap ini bisa dikatakan merupakan fase awal bayi mengenal dunia luar.

Allah Maha Besar, Allah menciptakan manusia dalam keadaan tidak berdaya, yang tahunya hanya dengan menghisap ia akan terpenuhi kebutuhan primernya. Ada hikmah dari penciptaan ini. Allah subhanahu wa ta’ala akan menumbuhkan kasih sayang orang tua kepada anaknya. Tulusnya hati ibu akan meluangkan waktu dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan sang bayi. Ada rasa puas ketika sang bayi tertidur pulas kekenyangan sehabis menyusu ibunya. Bayi akan merasa tenang, aman, puas, dan timbul kepercayaan pada dunia luar. Hal ini akan menjadi dasar utama untuk perkembangan bayi selanjutnya.

Trus… seperti pada bahasan awal… sesuai dengan fasenya, bayi menghisap jarinya sendiri adalah hal yang wajar. Yang dilakukan orang tua adalah pastikan jari anak dalam keadaan bersih, perhatikan agar bayi  tidak memasukkan benda – benda berbahaya ke dalam mulut untuk dihisap. Ketika umurnya sudah layak diberi makanan tambahan, berikan makanan yang bisa dipegang semacam biskuit atau buah untuk dihisapnya, hal ini akan lebih bermanfaat untuk melatihnya mengenal berbagai rasa makanan.

Semoga bermanfaat.

12 thoughts on “Juniorku Senang Menghisap Jari

  1. waah, bahasa psikologi.. Saya agak tertarik dengan yang berhubungan psikologi. Mengamati tingkah laki manusia, memahami maksud dan perkataan. Mendengarkan keluh kesah. Sepertinya mengasyikkan..😀

    Suka

  2. dari beberapa keponakan saya, banyak diantaranya yang senang menghisap jempol waktu mereka masih kecil… ketika sudah berangkat menjadi anak-anak dan sudah mulai mengerti, maka ketika itulah mereka tidak lagi menghisap jempol…🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s