SKB NOMOR 458 TAHUN 2000 TENTANG CALON JEMAAH HAJI HAMIL

undang23Menjelang keberangkatan jamaah calon haji di embarkasi, jamaah calon haji wanita usia subur harus diperiksa oleh bidan, untuk memastikan apakah jamaah hamil atau tidak. Karena wanita hamil termasuk kategori jamaah yang tidak memenuhi syarat istitha’ah, tapi hanya sementara. Kadang pemeriksaan dari puskesmas dan dinkes kabupaten tidak menemukan tanda-tanda kehamilan, kemungkinan karena jamaah menyembunyikan kehamilannya. Tahun 2013 dan 2015 kasus melahirkan di tanah suci pernah terjadi, padahal hamil tua merupakan larangan berangkat haji dan tidak bisa ditawar-tawar.

Wanita hamil mempunyai resiko membahayakan diri sendiri juga janin yang dikandungnya. Sebetulnya tidak semua wanita hamil dilarang berangkat haji. Hanya jamaah calon haji yang sehat dan pada saat berangkat dari embarkasi usia kehamilan mencapai sekurangkurangnya 14 (empat belas) minggu dan sebanyak-banyaknya 26 (dua puluh enam) minggu. Meskipun sehat tapi kehamilannya diluar batasan itu tetap harus ditunda. Misalkan ada jamaah yang umur kehamilannya 12 minggu, maka jamaah calon haji bisa ditunda 2 mingguan untuk dapat berangkat ke tanah suci. Setelah umur kehamilan mencapai 14 minggu, jamaah calon haji akan diberangkatkan dengan kloter di belakangnya, untuk selanjutnya nanti di tanah suci bisa bergabung lagi dengan kloter aslinya.

Kalau yang hamil tua mempunyai resiko gagalnya haji dan keselamatan diri juga bisa terancam. Misalkan jamaah calon haji melahirkan sebelum proses haji, maka ditanggung jamaah ke tanah suci hanya mendapatkan lelah tanpa pahala haji Selama masa nifas, jamaah calon haji tidak akan bisa menunaikan ibadah haji, karena ada rukun haji yang harus dilaksanakan dalam keadaan suci. Seperti thawaf ifadhah, harus dilaksanakan dalam keadaan suci.Mungkin sekembalinya ke tanah air jamaah akan mendapatkan gelar atau panggilan bu hajjah, tapi hanya itulah yang akan didapatkan.

Biaya perawatan bayi selama di tanah suci dan kepulangan bayi semua ditanggung oleh jamaah secara pribadi. Yang jelas, kalau memang hamil, laporkan kepada petugas haji, kalau memang harus ditunda tahun depan juga tidak apa-apa demi kemaslahatan bersama.

Masalah jamaah haji hamil sudah diatur dalam Surat Keputusan Bersama 2 menteri, Menteri Agama dan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia. Salinan SKB bisa didownload di sini

Di bawah ini saya lampirkan salinan SKB 2 menteri, semoga bermanfaat.

SALINAN SKB 

KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA 
DAN 
MENTERI KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA 
NOMOR : 458 TAHUN 2000 NOMOR : 1652.A/MENKES-KESOS/SKB/XI/2000 
TENTANG CALON HAJI WANITA HAMIL UNTUK MELAKSANAKAN IBADAH HAJI MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA 

Menimbang :
a. Bahwa dalam rangka peningkatan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan terhadap jemaah haji, dipandang perlu memberi kesempatan untuk dapat melaksanakan ibadah haji bagi calon haji wanita hamil;
b. Bahwa untuk merealisasikan maksud tersebut di atas, perlu dilakukan penentuan kriteria bagi calon haji wanita hamil sesuai dengan kemampuan kondisi kehamilannya agar dapat terlaksana dengan aman, tertib, lancar, dan sempurna;
c. Bahwa dengan sehubungan dengan butir a dan b di atas, maka dipandang perlu meninjau kembali Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Kesehatan Nomor 135A tahun 1995 dan Nomor 257/Menkes/SKB/III/1995 tentang Penundaan Calon Haji Wanita Hamil Untuk Melaksanakan Ibadah Haji.


Mengingat :
1. Undang-Undang Nomor 17 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji;
2. Keputusan Presiden RI Nomor 136 tahun 1999 tentang Kedudukan, Tugas, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian yang telah diubah dan disempurnakan dengan Keputusan Presiden RI Nomor 147 tahun 1999;
3. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 321/Menkes.Per/X/1978 tentang Pengamanan Kesehatan Perjalanan Haji;
4. Keputusan Menteri Agama Nomor 18 tahun 1975 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama dengan segala perubahannya terakhir dengan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 75 tahun 1984;
5. Keputusan Menteri Agama RI dan Menteri Kesehatan RI Nomor 294 tahun 1986 dan Nomor 788/Menkes/SKB/XI/1986 tentang Bimbingan Terpadu Program Terpadu Program Kesehatan Melalui Jalur Agama;
6. Surat Keputusan Menteri Agama RI Nomor 1117/Menkes/SK/XII/1992 tentang Pengamanan Kesehatan Jemaah Haji Indonesia;
7. Keputusan Menteri Agama RI Nomor 224 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah.

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA TENTANG CALON HAJI WANITA HAMIL UNTUK MELAKSANAKAN IBADAH HAJI

Pasal 1

Yang dimaksud dengan calon haji wanita hamil adalah calon haji wanita berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan tes positip hamil.

Pasal 2

Calon haji wanita hamil yang diijinkan untuk menunaikan ibadah haji harus memenuhi persyaratan :

  • a. Telah mendapat suntikan vaksinasi meningitis paling lama 2 (dua) tahun sebelum keberangkatan haji dengan bukti International Certivicate of Vaccination (ICV) yang sah.
  • b. Pada saat berangkat dari embarkasi usia kehamilan mencapai sekurangkurangnya 14 (empat belas) minggu dan sebanyak-banyaknya 26 (dua puluh enam) minggu.
  • c. Tidak tergolong dalam kehamilan risiko tinggi, baik untuk ibu serta janinnya, yang dinyatakan dengan keterangan dari dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan yang memiliki surat ijin praktik.
  • d. Menyerahkan surat pernyataan tertulis di atas kertas bermeterai yang ditandatangani oleh yang bersangkutan dan diketahui oleh suaminya atau pihak keluarganya yang lain sebagaimana contoh formulir terlampir.
Pasal 3

Apabila jemaah haji wanita hamil sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 melahirkan di perjalanan atau di Arab Saudi, maka ia harus menanggung biaya melahirkan dan tiket pesawat bayinya kembali ke tanah air.

Pasal 4

Dalam pelaksanaan kerjasama ini, Menteri Agama dan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, masing-masing bertanggung jawab sesuai tugas dan fungsinya masing-masing.

Pasal 5

Yang terkait dalam pelaksanaan kerjasama ini adalah :
a. seluruh jajaran Kementerian Agama Tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, dan Kecamatan
b. seluruh jajaran instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang kesehatan di Tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, dan Kecamatan.

Pasal 6

Dengan berlakunya Keputusan Bersama ini, maka Keputusan Bersama Nomor 135A tahun 1995 dan Nomor 257/Menkes/SKB/III/1995 tentang Penundaan Calon Haji Wanita Hamil Untuk Melaksanakan Ibadah Haji dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 7

Keputusan Bersama ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 13 Nopember 2000

MENTERI KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL
ttd
dr. ACHMAD SUJUDI
MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA REPUBLIK INDONESIA
ttd
MUHAMMAD TOLCHAH HASAN

14 thoughts on “SKB NOMOR 458 TAHUN 2000 TENTANG CALON JEMAAH HAJI HAMIL

  1. Rissaid berkata:

    Kenalan ibu saya menunda keberangkatan haji karena hamil pak. jika ditimang, terlalu beresiko untuk ibu dan kandungannya, mudah dehidrasi dll ya pak

    Disukai oleh 1 orang

  2. prih berkata:

    Keselamatan ibu dan anak, kemaslahatan bersama disinergikan dalam SKB ini ya Kang Nur. Sharing yang pastinya sangat bermanfaat bagi pembaca. Salam

    Suka

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, Kang Nur….

    Menjaga kebajikan jemaah haji merupakan tanggungjawab wajib bagi pemerintah. Sudah pasti segala risikonya sudah ditimbang tara agar tidak berlaku hal yang menyusahkan jemaah sendiri. Oleh itu, bakal jemaah haji perlu memahami segala proses yang telah diperintahkan bukannya mengambil sambil lewa. Mudahan segala kejadian buruk dapat dihindari. Hamil muda atau tua mempunyai risikonya tersendiri. Menunda lebih baik dari meneruskannya.

    Informasi yang bermanfaat kang. Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s