Thawaf… yang Menantang Arus Akan Celaka

thawafAda satu tempat di muka bumi ini yang menghadirkan kesibukan abadi, terus-menerus, dilakukan oleh manusia secara estafet tanpa kenal waktu selama 24 jam. Mereka berputar terus, mengelilingi suatu bangunan selama 7 kali, berlawanan arah dengan arah putaran jarum jam, selalu ada yang bergabung dan selalu ada yang keluar dari lingkaran. Terus-menerus tiada henti.

Tempat itu adalah ka’bah, baitullah… rumah Allah, di sanalah kesibukan abadi itu berlangsung, terus-menerus sejak Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memulainya. Kesibukan itu dinamakan Thawaf. طواف / thawaf  secara bahasa berarti berputar mengelilingi sesuatu, seperti kita sebut pada thawaf keliling Ka’bah. Secara istilah, thawaf berarti berputar mengelilingi baitul harom (Ka’bah). Hal ini berlangsung terus menerus, tanpa mengenal waktu, tidak hanya pada musim haji saja. Hal inilah yang menyebabkan aktifitas thawaf bisa berlangsung terus menerus dan bisa sambung menyambung.

Bagi yang punya channel TV ke stasiun TV Saudi (saya lupa nama TV nya) bisa dilihat aktifitas secara langsung Thawaf di Baitulharam. Saya sering memantau thawaf melalui TV ini, subhanallah… tidak ada kata sepi, pagi hari, jam 12 siang, bahkan jam 24.00 waktu Saudi, tetap tidak ada sepinya. Aktifitas akan terhenti ketika waktu sholat, tapi sehabis itu akan terjadi thawaf lagi. Berputar… berputar tiada hanti. Teratur, tidak akan ada yang menentang arus, karena yang menentang arus akan celaka.

Kadang saya berpikir, perputaran yang teratur ini pasti akan berefek pada alam sekitar. Akan ada keseimbangan yang didapat dari aktifitas yang dilakukan secara terus menerus dan dalam tempo yang sangat lama. Lihatlah, bagaimana tata suryapun akan melakukan thowaf pada satu titik tertentu. Ketika mereka berhenti berputar, tentu akan menimbulkan efek kerusakan yang luar biasa. Semua yang berputar alami akan berlawanan arah dengan jarum jam. Saya pernah memperhatikan orang yang jogging di pagi hari di stadion Manahan, merekapun secara tidak sadar akan jogging mengelilingi stadion dengan perputaran yang berlawanan dengan arah putaran jarum jam. Mengenai hikmah thawaf bisa dikunjungi situs ini.

Thawaf tidak hanya dilakukan di bulan haji saja. Ada beberapa macam thawaf, yang mana dengan beberapa thowaf ini akan menimbulkan estafet yang berlangsung terus menerus tanpa mengenal waktu.

Thawaf Qudum

Thawaf qudum disyari’atkan bagi orang yang datang dari luar Makkah sebagai penghormatan kepada Baitullah (Ka’bah). Menurut ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah, hukum thawaf qudum adalah sunnah bagi orang yang mendatangi Makkah sebagai bentuk penghormatan kepada Baitullah.

Thawaf Ziyaroh atau Thawaf Ifadhoh

Thawaf yang satu ini merupakan salah satu rukun haji yang telah disepakati. Thawaf ini tidak bisa tergantikan. Setelah dari ‘Arofah, mabit di Muzdalifah lalu ke Mina pada hari ‘ied, lalu melempar jumroh, lalu nahr (melakukan penyembelihan) dan menggunduli kepala, maka ia mendatangi Makkah, lalu thawaf keliling ka’bah untuk melaksanakan thawaf ifadhoh. Thawaf ifadhoh kadang menjadi masalah bagi jamaah haji wanita, karena kadang kedahuluan haid. Kadang ada jamaah haji wanita yang sampai akhir kepulangan belum bisa melaksanakan thawaf ifadah karena haid ini, sehingga harus menunggu sampai suci, yang mana masalah ini bisa menimbulkan penundaan kepulangan ke tanah air.

Thawaf Wada’

Thawaf wada’ merupakan thawaf perpisahan dari kota Mekkah. Kedatangan di kota Mekkah diawalai dengan thawaf qudum dan diakhiri dengan thawaf wada’.

Thawaf ‘Umroh

Thawaf ‘umroh merupakan di antara rukun ‘umroh. Pertama kali setelah orang berihram untuk ‘umroh, maka ia melakukan thawaf ini dan tidak mengakhirkannya.

Thawaf Nadzar

Hukumnya adalah wajib (bagi orang yang telah bernadzar) dan tidak dikhususkan pada waktu tertentu jika memang orang yang bernadzar tidak mengkhususkan waktu thawafnya pada waktu tertentu.

Thawaf Tahiyyatul Masjidil Harom

Ini hukumnya sunnah bagi setiap orang yang memasuki masjidil harom kecuali jika memang ia akan melakukan thawaf lainnya, maka thawaf tahiyyat ini sudah termasuk dalam thawaf lainnya seperti thawaf ‘umroh. Begitu pula ketika seseorang ingin melaksanakan thawaf qudum, maka thawaf tahiyyat ini sudah masuk di dalamnya karena ia (thawaf tahiyyatul masjidil harom) statusnya lebih rendah. Demikian karena memang untuk menghormati masjid yang mulia (Masjidil Mahrom) adalah dengan thawaf kecuali jika memang ada halangan, maka bisa diganti dengan shalat tahiyyatul masjid.

Thawaf Tathowwu’

Yang termasuk thawaf ini adalah thawaf tahiyyatul masjidil harom di atas yaitu dilakukan ketika masuk Masjidil Harom. Adapun thawaf tathowwu’ yang bukan sebagai thawaf tahiyyatul masjidil harom, maka ia tidak dikhususkan dilakukan pada waktu tertentu. Thawaf tersebut artinya bisa dilakukan kapan saja, bahkan bisa pula dilakukan di waktu terlarang untuk shalat sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Namun thawaf seperti tidak boleh dilakukan jika memang masih memiliki kewajiban lainnya.

Sumber: https://muslim.or.id/18438-mengenal-thawaf.html

Thawaf harus berputar mengelilingi seluruh bagian ka'bah. sumber gambar : alfarisi.web.id

Thawaf harus berputar mengelilingi seluruh bagian ka’bah. sumber gambar : alfarisi.web.id

Berikut beberapa hal yang mesti dilakukan ketika thawaf:

  1. Orang yang berthawaf wajib mengelilingi ka’bah.
  2. Tujuh kali putaran mengelilingi Ka’bah.
  3. Berniat.
  4. Thawaf dilakukan di tempat yang khusus.
  5. Memulai thawaf dari Hajar Aswad.
  6. Orang yang berthawaf berada di sebelah kanan Ka’bah.
  7. Suci dari hadats dan najis.
  8. Menutupi aurat.
  9. Tidak ada selang antara tiap putaran thawaf, artinya harus 7 putaran secara berturut turut, tidak boleh diselangi dengan kegiatan lainnya semisal buang hajat.
  10. Berjalan bagi yang mampu, jika tidak mampu bisa naik kursi roda.

Sumber: https://muslim.or.id/18440-hukum-seputar-thawaf.html

Semoga bermanfaat

13 thoughts on “Thawaf… yang Menantang Arus Akan Celaka

  1. Betapa ini adalah bentuk patuh dan tunduk seorang hamba kepada Allah Swt. Bila tidak patuh, misal menantang arus, maka akan celaka. Segenap tata surya juga patuh dan tunduk kepada-Nya. Bila berhenti dari putarannya maka akan ada kehancuran. Demikian pula manusia ini, bila tak patuh dan tunduk kepada Allah ‘Azza wa Jalla maka yang didapat juga celaka. Na’udzu billahi min dzalik. Semoga kita termasuk hamba yang patuh dan tunduk kepada-Nya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s