Masa Depan di Depan Mata

Mengunjungi embah-embah di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Yogyakarta Unit Budi Luhur yang beralamat di Kasongan, Bangun Jiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, ada kesan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata… karena begitu membekas di hati. Ketika itu saya dan teman-teman mahasiswa STIKES PKU  MUHAMMADIYAH Surakarta melakukan kunjungan ke panti wredha, sebagai tugas perkuliahan stase keperawatan gerontik. Saya yang sudah lansia harus mengunjungi yang lansia juga. Tapi, meskipun kami sudah lansia, di panti wreda ini kami serasa menjadi muda lagi.

Kunjungan kami bukan sekedar dolan atau silaturahim biasa. Kami diberi tugas untuk memberikan penyuluhan tentang keperawatan gerontik kepada para manula yang menghuni Panti Sosial Tresna Werdha, penyuluhan dengan gaya yang berbeda tidak dalam bentuk pidato atau ceramah. Kata bu dosen pembimbing kalau dalam bentuk pidato atau ceramah akan membuat embah-embah menjadi ngantuk. Kebetulan saya diberi amanah menjadi leader, yang harus memimpin dan meramu semua acara agar bisa berjalan dengan baik dan sesuai harapan.

Menyatukan teman-teman dengan berbagai karakter menjadikan tantangan tersendiri sebagai leader, namun perbedaan ini malah menjadikan saya mudah membagi tugas kepada mereka, mana yang menjadi co leader, fasilitator, maupun peran yang lain. Saat latihan yang hanya 3x pertemuan akhirnya semua rencana acara dan gladhi bersih terlihat sudah memuaskan, walau sebetulnya masih jauh dari sempurna. Yah… untuk mahasiswa yang sudah udzur, hal ini sudah termasuk bagus, ya diharap maklum saja.

Sambutan yang hangat dari tuan rumah dan penghuni Panti Sosial Tresna Werdha membuat hati ini yang semula galau menjadi tenang. Embah-embah yang semua sudah tua, duduk berhadapan di depan kami. Saya pandangi satu persatu mereka semua. Ya… Mereka merupakan gambaran masa depan saya… MASA DEPAN DI DEPAN MATA, yah… suka tidak suka bila saya diberi umur panjang, saya akan melewati masa seperti mereka. Secara fisik, kegagahan dan kecantikan masa muda akan hilang, kekuatan akan berganti dengan kelemahan. Saya berfikir, kenapa mereka di umur yang sudah senja malah berada di panti sosial ini, alangkah malang nasib mereka. Entahlah, mungkin pikiran saya salah, karena saya melihat mereka begitu ceria, tidak ada kesan tertekan atau stress, mungkin mereka di panti malah banyak kawannya dan merasa terhibur, beda kalau di rumah hidup hanya sendirian dan tidak ada yang memperhatikan kebutuhannya. Entahlah…

para mahasiswa

para embah

Acara serah terima dari pihak kampus kepada pihak panti sudah selesai, maka acara inti dimulaui. Giliran saya maju untuk menyapa embah-embah, karena Jogjakarta itu pusatnya Jawa, maka saya gunakan bahasa Jawa halus biar ada kesan sopan kepada orang tua. Orang tua Jawa itu akan menghargai anak muda bila mereka diinggilkan (ditinggikan), dalam artian dihormati, dihormati dari segi prilaku dan bahasa. Saya mulai memperkenalkan diri, mengutarakan maksud dan tujuan serta minta kontrak waktu karena akan melakukan penyuluhan. Sepuluh menit sudah cukup waktu saya memperkenalkan diri, selanjutnya akan menuju acara berikutnya.

Permainan menggulung stagen merupakan acara selanjutnya, permainan terkesan sederhana namun saya coba merubahnya agar tidak sederhana. Pemain saya buat empat kelompok, setiap kelompok ada tiga anggota. Ketika saya menawarkan kepada embah-embah, ternyata hampir semua antusias untuk ikut. Akhirnya saya seleksi dengan peserta enam orang embah putri dan enam orang embah kakung, dan tetap terbagi menjadi empat kelompok. Fasilitator segera menyiapkan semua peralatan dan setting tempat. Setelah semua siap maka saya sebagai leader menjelaskan tata cara permainan, setelah semua paham maka permainan dimulai. Saya memimpin acara permainan dengan suara saya, yang dari suara ini bisa membuat penonton (embah-embah) ikut larut dan memberikan dukungan pada masing-masing team. Sengaja juga saya atur agar semua mahasiswa ikut larut juga dalam permainan dan memilih satu team untuk didukung, sehingga suasana ruangan menjadi bergemuruh. Apalagi ketika ada satu team yang berhasil menggulung dengan rapi, maka pendukung melakukan selebrasi yang lumaya lebay tapi cukup membuat terpingkal-pingkal. Semua pada akhirnya berhasil menyelesaikan permainan ini… satu acara sudah selesai.

Acara selanjutnya adalah sosiodrama, yaitu penyuluhan kesehatan tapi dengan metode drama. Kebetulan saya juga yang menjadi sutradara. Drama dimulai dari sebuah insiden, ketika itu ada dua mahasiswa yang tidak puas dengan hasil permainan menggulung stagen. Mereka melihat ada kejanggalan dan kecurangan panitia dengan memberi stagen dengan panjang berbeda. Mereka protes kepada saya selaku ketua panitia, bahkan mereka sampai membandingkan empat stagen dengan diulur berjajar dan memang panjangnya berbeda. Saya tidak berkutik karena keadaan ini, bahkan dua mahasiswa itu berhasil melakukan provokasi terhadap embah-embah agar ikut memprotes saya. Haduh… ramai banget nih… sampai saya kuwalahan. Muncul dua mahasiswa menengahi keadaan ini, mereka membujuk semuanya agar tidak emosi. Alhamdulillah suasana bisa ditenangkan, emosi dapt diredam, dengan menggunakan tehnik relaksasi nafas dalam maka pikiran menjadi tenang.

sosiodrama

sosiodrama

Sosiodrama berlanjut dengan masalah hypertensi pada lansia, diharapkan semua peserta bisa bersabar dan menahan emosi agar tensi darah tidak naik secara drastis. Alhamdulillah sosiodrama bisa berlangsung dengan lancar, melebihi ekspetasi yang diinginkan, bahkan para lansia terbawa arus mengikuti alur sosiodrama. Alur drama kadang muncul secara spontanitas sehingga enak untuk ditonton dan yang penting… embah-embah jadi tahu dan paham tentang hypertensi.

Akhir sosiodrama ditutup dengan melakukan senam anti stroke secara bersama-sama, baik para lansia, mahasiswa dan dosen pembimbing. Instruktur senam saya pilih dari adik tingkat, kebetulan saat itu diikuti oleh adik tingkat juga. Senam yang ringan namun cukup membuat sehat .

senam anti stroke

Tak terasa dua jam sudah kami bersama-sama para lansia, berakrab-akrab, tibalah acara terakhir. Saya maju lagi, kali ini saya akan melakukan responsi atas apa yang kami sampaikan tadi. Saya memberikan pertanyaan dan dijawab langsung oleh para lansia, walaupun jawaban kadang tidak persis dengan kunci jawaban, tapi rata-rata jawaban sudah menggambarkan mereka sudah paham dengan apa yang disampaikan tadi. Selanjutnya saya pamit, mohon maaf dan berterimakasih atas semua yang kami lakukan bersama-sama.

Sebetulnya acara dari kami sudah selesai, tapi pihak panti sosial menahan diri kami agar mengikuti acara rutin yang diselenggarakan pihak panti sosial yaitu karaoke. Iya… kami mengiyakan dan ikut bergabung dengan para lansia, bernyayi bersama, menyumbang lagu, dan yang membuat saya terkejut, ternyata para lansia di sini senang berjoget juga. Ketika pak dosen saya menyumbang lagu Diana Koes Plus dan senggol-senggolan, serentak para lansia maju ke depan ikut menari bersama, walaupun goyangan mereka sudah tidak selincah dulu. Sebuah goyangan ceria di sisa usianya yang sudah senja.

ngibing yoook…

goyang sri….

Menjelang dhuhur acara selesai, kami benar-benar pamit seteleh sebelumnya berfoto bersama sebagai kenangan terakhir, kenangan yang sangat berkesan dan in sya Allah tidak akan terlupakan. Semoga para embah bisa merasakan kebahagiaan di sisa umurnya, walaupun jauh dari keluarga mereka semua.

 

Iklan

8 thoughts on “Masa Depan di Depan Mata

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, Kang Nur….

    Apabila hati kita ikhlas dan ingin berbagi rasa tidak kira tua atau muda, pasti ada jalan mudah yang diberikan Allah untuk menyempurnakan rencana yang singkat. Ternyata para embah tersebut sangat gembira dan bahagia. Mungkin mereka jarang didatangi kumpulan mahasiswa yang prihatin dengan mereka. Sudah pasti itu satu kenangan yang tidak dapat dilupakan.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.

    Suka

    • Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh… salam sejahtera ibu Siti Fatimah, ganti blog ya ibu… para embah begitu gembira, karena di panti banyak kawan senasib, juga di panti ini malah sering sekali mendapat kunjungan mahasiswa, baik dari keperawatan, kedokteran, fisioterapi, pekerja sosial… semua berkunjung ke situ, tidak ada sepinya

      Disukai oleh 1 orang

  2. rynari berkata:

    Beneran masa depan di depan mata ya Kang. Suka sekali dg kreativitas mengemas materi. Dari permainan, dinamika emosi melalui sosiodrama dan pengendalian diri. Semoga para simbah binerkahan sehat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s