Khitanan Masal : Senyumku untuk Tangismu

Jeritan tangis anak, bersahut-sahutan dari satu anak ke anak yang lain,  sambung-menyambung dari satu waktu ke waktu yang lain, bukan karena tangis kesedihan tapi karena tangis kesakitan dan ketakutan. Namun tangisan itu kami tanggapi dengan senyuman, juga motivasi untuk menaikkan nyali sang anak, bukan bentakan yang akan semakin membuat down sang anak. Demikian gambaran di ruangan Pendapi Gedhe Balai Kota Solo yang disulap menjadi sebuah ruangan operasi kecil sirkumsisi (khitan/sunat), walaupun remang-remang tapi tidak apalah… maklum yang namanya khitanan masal tidak harus berada di ruangan yang ideal.

Kalau dipikir-pikir, khitan itu memang sakitnya luar biasa, tiada terkira. Saya yakin pernyataan saya ini akan di-aamiin-kan banyak orang. Dahulu, saya khitan saat kelas 2 SMP, kalau sekarang seumuran itu sudah kebesaran. Anak sekarang kelas 4 SD, bahkan ada yang lebih kecil lagi sudah dikhitan. Malahan belum lama ini saya mendapati anak umur 7 hari sudah dikhitan. Rasa sakit waktu khitan itu sampai sekarang masih bikin saya trauma, karena saking sakitnya itu saya benar-benar KAPOK, dan cukup sekali saja dikhitan. Hadeehhhh….

Meskipun rasa trauma itu masih ada, tapi kalau urusan mengkhitan anak saya tak pernah kapok. Entah sudah berapa banyak burung yang pernah saya permak, sudah tak terhitung banyaknya, tapi selalu dengan anak yang berbeda. Dari sekian banyak anak yang pernah saya khitan belum ada satupun anak yang kembali lagi minta dikhitan. Mungkin mereka sama dengan saya… mereka truma dan sudah KAPOK.

Walaupun khitan itu sakit, tapi sebagai tenaga medis tidak dibetulkan menakut-nakuti anak dengan kalimat atau hal-hal yang membuat mental anak menjadi down. Apalagi waktu khitanan masal. Suasana khitanan masal bagi anak merupakan suasana yang menegangkan. Nomor antrian yang manapun tidak akan bisa menenangkan dengan sempurna, yang dapat antrian depan semakin kencang degup jantungnya, yang dapat antrian belakangpun tidak bisa lebih tenang, karena cepat atau lambat ia akan sampai juga. Buat anak serileks mungkin, mungkin dengan kata-kata motivasi, ” Sakitnya pas disuntik saja… paling seperti digigit semut”, atau kata-kata yang lain. Saya pernah diprotes penunggu pasien mengenai suntik sakit seperti digigit semut… apakah protapnya di seluruh Indonesia seperti itu. Apa tidak bisa diganti digigit nyamuk… Iya… bisa juga… tapi saat itu terus saya bilang, tetep digigit semut mas, tapi semutnya ga cuma satu, tapi sekeranjang…

Khitan merupakan salah satu ajaran yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Ibrahim Alaihissallam, dan dari ajaran Nabi Ibrahim ini maka Nabi dan Rasul serta umatnya, yang berada di garis bawah Nabi Ibrahim mengikuti ajaran ini. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam menganjurkan umatnya berkhitan juga. Khitan termasuk fitrah yang disebutkan dalam hadits shahih. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

الفِطْرَةُ خَمْسُ : الخِتَانُ وَالاسْتِحْدَادُ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَتَقْلِيْمُ الأَظْفَارِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Lima dari fitrah yaitu khitan, istihdad (mencukur bulu kemaluan), mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan mencukur kumis”. HR Muslim dalam Minhaj (1/541) dan Bukhari dalam Fathul Bari (10/334)

Mengenai tehnik khitan jaman dulu, saya tidak menemukan literatur yang membahasnya. Ketika saya khitan dulu, tenaga pengkhitan namanya “Gandring”, sore itu saya diantarkan ke rumah Pak Gandring setelah sebelumnya dijopa japu sama mbah dukun, biar apa saya tidak tahu. Tehniknya ketika itu saya dibaringkan, trus disekitar kemaluan diberi air dingin sekali (mungkin saja alkohol), trus disemprot…. srooootttttt…. ga lihat cuma rasanya kulit jadi tebal, trus kemaluan rasanya ada yang menjepit, trus cepet sekali prosesnya tiba-tiba kemaluan sudah dibungkus perban, trus dipakaikan celana dalam. SELESAI.

peserta diarak naik becak

Jaman sekarang metode khitan seperti Pak Gandring itu sudah jarang digunakan. Metode itu dalam dunia medis dinamakan dorsumsisi yaitu metode khitan dengan cara dipotong kulit bagian atasnya saja. Metode ini tanpa jahitan karena jarang ada pendarahan yang berarti. Metode sekarang adalah metode sirkumsisi, yaitu metode khitan dengan kulup dipotong melingkar. Metode ini lebih bersih, lebih bagus dan lebih afdhol. Karena dipotong melingkar maka akan ada pendarahan yang menyertainya sehingga harus ada jahitan sebagai penghenti pendarahan dan membuat luka menjadi rapat kembali. Benang jahit dipilih dari benang yang bisa diserap tubuh tanpa harus melepasnya kembali.

Khitan di era sekarang sudah menjadi lahan bisnis yang menjanjikan. Ketika musim liburan merupakan panen rejeki bagi para ahli khitan. Mereka menjadi sangat sibuk dengan order yang mengalir deras. Biaya yang dipatokpun begitu beragam, mulai dari ratusan ribu sampai juataan rupiah. Berbagai inovasi ditawarkan, dari khitan metode konvensional, metode cincin, laser, tara klem, khitan sambil main PS, de el el, de es be. Yah… jaman sekarang memang harus banyak berinovasi, walaupun inovasi itu tetap saja sakit, tetapi kadang sugesti dan korban iklan menjadikan orang menjadi mantap.

persiapan tempat

siap melakukan operasi

badutpun siap menghibur

Trus, kalau jaman sekarang apa-apa serba bisnis, apakah tidak ada celah sosial dari era kesehatan jaman sekarang. Alhamdulillah, masih ada yang tergerak hatinya untuk selalu beramal sholeh, membantu sesama dalam pembiayaan khitan ini. Seperti contohnya, pemkot Solo bekerja sama dengan PMI Surakarta dan Yayasan Amal Sahabat Surakarta melakukan bakti sosial dalam bentuk khitanan masal. Bagi peserta khitanan masal tidak dipungut biaya sepeserpun, bahkan dapat uang saku dan seperangkat pakaian.

Meskipun gratis bagi peserta, khitanan masal tidak boleh dikelola dengan asal-asalan. Semua penyelenggaraan harus dikerjakan secara profesional, dan tidak boleh ada kesan “kalau mau yang bagus ya jangan cari yang gratisan”. Maka dari itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar khitanan masal bisa terlaksana dengan baik.

kedepankan prinsip steril

keluarga lebih baik mendampingi

mengintip… deg degan menunggu giliran

Donatur

Adanya donatur yang siap dari segi materi, terutama uang sangat diperlukan. Khitanan masal memerlukan biaya yang cukup besar untuk operasional semua kegiatan. Semakin banyak jumlah peserta maka akan semakin besar pula biaya yang dibutuhkan. Bila dana belum terpenuhi, jangan mentargetkan jumlah peserta yang akan dikhitan.

Koordinator Kegiatan

Tugasnya adalah memimpin semua kegiatan agar bisa terlaksana dengan lancar. Semua dana yang diberikan harus bisa dimanfaatkan dengan tepat sesuai dengan kebutuhan. Dalam mengerjakan tugas seorang koordinator harus dibantu oleh beberapa orang sebagai bendahara, sekretaris dan seksi yang lain.

Koordinator Medis dan Alkes

Tenaga medis merupakan komponen utama dari kegiatan khitanan masal, bagus tidaknya hasil khitanan masal tergantung dari tenaga medisnya. Sebetulnya semua tenaga menentukan tapi intinya di tenaga medis ini. Seorang koordinator harus bisa memilih tenaga medis yang benar-benar berpengalaman dalam khitan-mengkhitan. Satu kesalahan dari koordinator adalah tidak memeperhatikan hal ini. Pernah saya ikut kegiatan khitanan masal, rasanya miris sekali bila mendengar jerit kesakitan anak yang terasa tidak wajar. Mungkin karena kesulitan mencari tenaga medis, koordinator memasukkan para mahasiswa kedokteran dan mahasiswa keperawatan untuk ikut menjadi operator, bahkan menjadi operator utama. Tentu saja hal ini akan membuat hasil khitanan menjadi kurang baik, banyak jerit kesakitan, terjadi pendarahan yang sulit dihentikan, dan hasil permak potongan yang tidak bagus dipandang. Idealnya, satu tenaga profesional berpengalaman banding satu tenaga medis kurang pengalaman, mereka berdua dipadukan jadi satu meja.

Alat kesehatan juga harus menjadi perhatian, jaga keseterilannya, jangan sampai terjadi penularan dari satu anak ke anak yang lain. Bahan habis pakai harus yang berkwalitas baik. Jarum, benang, sarung tangan harus tersedia berdasar jumlah anak, kalau bisa dilebihkan sedikit agar tidak menimbulkan kesulitan di akhirnya. Pernah saya mengikuti khitanan masal, ketrika tinggal beberapa anak sarung tangannya habis, saya tanya ke panitia katanya disuruh pakai tangan telanjang. Wah… ini panitia pasti sering menjadi panitia khitanan masal di daerah bencana. Khitanan masal di daerah bencana memang serba efisien, efisien biaya dan sdm, yang penting semua bisa dikhitan. Tapi bila khitanan masal di perkotaan dengan dana melimpah, hal yang seperti ini tidak boleh terjadi.

Orang Tua Anak

Peran orang tua anak adalah mensupport mental sang anak agar tidak takut dan tenang dalam menghadapi khitanan masal. Apalagi bila khitan bukan keinginan sang anak alias paksaan orang tua. Kadang orang tua memaksa anak agar mau ikut saat itu karena tertarik dengan program gratisnya. Hal ini sebetulnya tidak perlu terjadi karena program khitanan masal gratis in sya Allah tiap tahun akan tetap ada. Bila anak kurang berani akan berefek tidak baik pada diri anak sendiri. Anak akan tertekan, tenaga medis kadang juga sedikit kesulitan karena harus sedikit memaksa. Bila anak memperoleh antrian paling depan, kadang jerit tangisnya yang keras akan membuat anak di luar menjadi semakin ciut nyalinya. Bagi orang tua alangkah baiknya hal ini diperhatikan.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Iklan

12 thoughts on “Khitanan Masal : Senyumku untuk Tangismu

  1. azizatoen berkata:

    Jadi inget semasa kecil pernah tanya ke kakak sama adik gimana rasanya dikhitan, dan mereka jawab nggak inget karena disunatnya waktu masih balita 😂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s