(Akan) Lenyapnya Nama-Nama Jawa

Apa yang ada di benak Anda bila mendengar atau membaca nama Karto Semito. Atau nama lain seperti Singo Dimejo, Pawiro Diharjo, Kromo Sumarto. Tentu dalam benak kita, mereka yang punya nama orangnya sudah tua banget, embah-embah umur 60 tahun ke atas. Lalu, bila kita mendengar nama Sunarti, Sunarto, Supardi, Suparti, Sumiyati, pasti dalam benak kita akan membayangkan orang yang punya nama adalah orang Jawa era doeloe. Tapi bila ada nama semisal Salsabila, Brian, Aurel, Ghibban, dalam benak kita pasti akan mendapati mereka adalah anak-anak jaman sekarang, entah dari suku apa mereka.

Membuka billing rumah sakit yang berisi nama-nama pasien, saya mencoba mengintip satu-persatu nama pasien yang pernah rawat inap. Banyak nama terpampang di sana, sesuai umur nama akan berubah dengan sendirinya. Nama-nama Jawa memang selalu mengalami perubahan sesuai dengan jamannya.

Seangkatan saya di era tahun 70an, nama Jawa dengan awalan “Su” masih menjadi pilihan. Ada Sunarti, Sunarto, Suyitno, Sugiyarto, Supardi, Sukardi, dan Su-Su yang lain. Su dalam bahasa jawa berarti baik. Contoh Suharto artinya Harta yang baik. Namun seangkatan saya sudah mulai banyak pula nama yang berganti dan keluar dari pakem Jawa lama. Sudah ada nama Sigit, Nanang, Bambang, Eni, Sri, dan sejenisnya. Sedikit nama tua masih juga ada, semacam Sugiyem, Poniyem, Ponatin.

Menilik ke era atas, seangkatan orang tua saya nama “Su” sangat mendominasi. Ibu saya bernama Sukarmi, sedang bapak bernama Sukidi. Kakak saya yang 7 tahun lebih tua bernama Supriyadi. Nama yang terkesan tua seperti Giyem, Boinem, Wagiyem, Wagimin juga tak kalah banyak.

Lebih ke atas lagi, di era kakek nenek saya, nama Jawa yang terkesan benar-benar tua sangat mendominasi. Nama seperti Karto Ijoyo, Singo Dimejo, Prawiro Dikromo, Karto Semito, sedangkan nama putri seringnya mengikuti nama laki-lakinya. Wagiyem, Sugiyem, Paiyem, Pariyem, atau sejenisnya begitu mendominasi.

Menuju ke bawah di era anak-anak saya, nama-nama di atas sudah sulit sekali ditemui. Mencari anak dengan nama Sunarti, Sunarto saja sulit apalagi Wagiyem atau Karto. Nama anak-anak jaman sekarang kadang sudah hilang aroma Jawanya. Kalaupun ada biasanya nama Jawa yang lebih kelihatan modern semacam Bagas, Waskito, Dewi, dan yang sejenisnya.

Entahlah, mungkin nama-nama Jawa memang tidak bisa dipakai di semua jaman. Nama kakek dan orang tua saya akan terasa kuno bila dipakaikan ke anak saya. Bolehlah saya paksakan, anak saya akan saya namai Sugiyem, agar nama Jawa bisa lestari lagi. Tapi permasalahan akan terjadi pada anak saya sendiri. Ketika ia tahu namanya tidak sama dengan nama teman-temannya pasti dia malu. Di satu sisi dia tidak kuasa merubah namanya sendiri, karena nama merupakan identitas diri yang tidak akan mudah berganti dengan cepat.

Sebagai orang Jawa saya sebetulnya cukup iri juga bila mengamati nama daerah lain yang tak lekang oleh perubahan jaman. Nama Batak yang sampai saat ini masih dipakai masih terasa enak didengar telinga. Nama Arab, Nama Inggris, Nama Swedia dengan Son dibelakangnya. Juga nama-nama Cina, Jepang, Vietnam, Thailand yang khas. Nama-nama yang tidak pernah berevolusi dan berubah.

Mungkin, tiga generasi lagi nama-nama Jawa akan lenyap, sayang sekali memang. Sebuah identitas yang khas terancam akan punah karena memang nama-nama Jawa terkesan kuno. Bukannya mengejek budaya sendiri tapi demikianlah sebenarnya. Mengakui atau tidak, salah satu penyebab tidak mau memakai nama jawa adalah faktor nama jawa sudah kuno dan ketinggalan jaman. Sedangkan untuk membangkitkannya lagi merupakan hal yang terasa mustahil dan terkesan mengedepankan egoisme diri.

Iklan

27 thoughts on “(Akan) Lenyapnya Nama-Nama Jawa

  1. kunudhani berkata:

    Karto supatmo.. Mbah kuuu 😆 tapi tante nama in anaknya pke nama dulu, kyakny jaman udah muter lagii mngkin yg bedain dlu satu suku kata, skrg jd 2 bhkan 3 😄

    Suka

    • Iya… Nama jaman sekarang seringnya lebih dari satu kata, bahkan ada yang berlebihan sampai 6 kata. Tapi sebaiknya 3 kata biar pas buat paspor lebih enak, ga ndompleng nama orang tuanya

      Disukai oleh 1 orang

  2. shiq4 berkata:

    Iya saya hidup di desa saja namanya sudah bagus2 sekali. Ya namanya perang budaya. Indonesia itu mudah terkena budaya asing dalam segala hal. Klo dilakukan bersama-sama ya semakin hilanglah jati diri bangsa.

    Suka

  3. Nur S Ahmadi berkata:

    Duh…..iya iya….teman2 seangkatanku saja (lahir di akhir th 60 an) sudah bagus2 namanya (Asri, Lilis, Atik, Wulan, Agus, muslih, Rohmad dsb), meskipun ada juga yang masih menggunakan nama su tapi sdh jarang, Tapi kalau nama seperi Karto Pawiro, Karso Diyono memang benar itu angkatan mbahku yang sekarang sdh pada sedo…betul lama2 hilang nama-nama itu
    Gmn ya? Tak ada yg bisa kita lakukan

    Suka

    • Nggak mungkin juga mbak nur mau menamai anaknya dengan nama karso Diyono ya mbak… Tentunya kasihan sang anak bila itu terjadi, mungkin di sekolahnya nanti akan sering kena bully ringan seperti temanku dulu yang namanya Ponatin sering dipanggil mbah Pon.

      Disukai oleh 1 orang

  4. Nur Irawan berkata:

    iya kang nur, ironis juga.
    Anakku juga aku namakan berdasar nama arab..
    yah seperti yang kang nur bilang, bahwa, nama adalah sebuah identitas diri yang tak mungkin dirubah kembali, apalagi sudah tercantum di sebuah akte kelahiranmaupun KK.
    Rasanya, aku juga berpikiran menamai yang bagus, sebagai doa untuk anak, juga aga terlihat bagus dan tidak memalukan dibanding nama teman-temannya entar…

    Suka

    • Aku dulu punya teman SD namanya Ponatin dan Misminah, oleh guruku dianjurkan diganti menjadi Sunarni dan Winarni, kebetulan ortunya juga setuju. Pas itu gampang saja karena akte kelahiran belum jadi model. Cukup dibancaki ngundang tetangga kanan kiri dah berubah namanya.

      Suka

  5. dinimuktiani berkata:

    Kalo namaku sih nama Jawa kekinian (?). Sampai ada bapak pasien yang nebak aku orang Jawa pas lihat namaku di kwitansi pembayaran 😀

    Suka

  6. rayamakyus berkata:

    bener banget. di daerahku juga bgitu. Mulai ada pergeseran kebudayaan dalam pemberian nama anak. Contoh lain nama anakku. Lengkapnya Yusuf Rafid, tapi aku lebih nyaman memanggilnya ucup. Sementara banyak yg gak setuju panggilannya seperti itu. Katanya ndeso banget! hehehe

    Suka

  7. Frany Fatmaningrum berkata:

    Saya rasa tingkat pendidikan dan perkembangan zaman yang menjadi faktor utama pergeseran nama.

    Nama2 yang disebutkan di post ini, adalah nama almarhum kakek saya. Bahkan alm kakek sudah tidak memberi nama Su- ke anak – anaknya. Tentu saja apalagi orang tua saya, memberi nama saya saja ada unsur baratnya.

    Yang pasti nama anak sekarang terdiri dari 3 atau 4 suku kata. Agar mudah saat bikin paspor. Haha.

    Suka

  8. Saya malah hanya menemukan nama Singodimejo di buku IPS anak sekolahan mas haha. Di nyatanya belum pernah ketemu. Memang sedih kalau membayangkan suatu nilai budaya bisa saja lenyap hm

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s