Khitan yang Menular

Musim liburan musim khitan. Rejekinya para MALING nih. Maling? Pencuri? Bukan ya… MALING itu sebutan untuk para perawat yang punya hobi keliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mengobati pasien. MALING kependekan dari Mantri Keliling. Kalau liburan gini orderan kitan datang mengalir manis terhadap mantri keliling. Salah satu kelebihan dari mantri keliling adalah mau melakukan khitan panggilan ke rumah sesuai waktu yang ditentukan tuan rumah. Maklum saja, di Jawa itu masih sering ada keyakinan tentang waktu baik, jam baik, menit baik, detik baik, dan hal ini hanya mantri atau perawat yang mau melakukan sesuai keinginan tuan rumah. Tapi harus janjian jauh-jauh hari ya…Tak kalah dengan mantri keliling, ajang kitanan masal juga tak kalah sigap. Khitanan masal juga laris manis, berapapun targetnya pasti terpenuhi, bahkan bisa melebihi kuota. Ada perbedaan dari kesiapan anak yang akan dikhitan dari kedunya. Kalau di khitanan masal itu biasanya butuh rayuan yang lebih, mungkin anak belum siap khitan tetapi dipaksa orang tuanya. Kalau panggilan meskipun tidak semuanya, rata-rata sudah siap, maklum saja anak meminta sendiri.

Sebetulnya tidak ada teori yang menyebutkan tentang waktu tepat untuk khitan. Apa-apa yang saya tulis ini hanya berdasar pengalaman pribadi, juga pengalaman teman-teman saya sesama perawat. Ketika jaman saya khitan dulu, pathokan untuk dikhitan itu berubahnya suara. Perubahan suara pada anak laki-laki merupakan suatu tanda pubertas, memasuki masa remaja. Biasanya terjadi pada umur 10-14 tahun. Saya dikhitan ketika kelas 2 SMP, mungkin umur 13 atau 14 tahun. Saya meminta sendiri ke orang tua, seangkatan di kampung saya yang nomor dua dikhitan, hal ini menimbulkan perasaan bangga karena menjadi anak yang berani dikhitan di awal-awal, walaupun nomor dua. Karena berani dan sudah besar tentunya, maka khitannya cukup lancar, walaupun sakitnya bikin kapok, tapi tidak ada insiden rayu merayu.

Masa kini umur anak khitan lebih muda lagi. Usia Tk saja sudah banyak yang khitan. Entah siapa yang mulai, yang jelas khitan itu menular, bila ada satu anak yang khitan, maka akan menular ke anak yang lain. Yang dulu kelas dua SMP baru berani khitan, kemudian muncul yang kelas 6 SD, muncul lagi kelas 5 SD, seterusnya sampai muncul kelas TK, bahkan sampai bayi baru lahir 7 hari. Sekarang ini mulai ada orang tua yang meminta anaknya dikhitan ketika beberapa hari baru dilahirkan. Menurut pengalaman ternyata mengkhitan ketika umur sangat dini itu lebih mudah, mudah dalam proses dan penyembuhannya. Bayi tidak banyak berontak, hanya ketika awal suntikan bius menangis. Pendarahan sedikit karena pembuluh darahnya masih kecil. Ketika besar anak tidak akan menanggung beban psikologis karena sudah dikhitan ketika bayi.

Seberapapun usianya, sebaiknya waktu yang tepat untuk khitan adalah ketika anak sudah benar-benar siap. Khitan merupakan masalah yang cukup besar pada seorang anak laki-laki, jadi jangan paksa selagi belum siap. Kadang timbul penyesalan dalam pikiran anak… “kenapa dilahirkan sebagai laki-laki?” Tapi meskipun menyesal trus untuk menghibur diri biasanya akan membandingkan dengan yang terlahir sebagai wanita. Wanita harus melahirkan, sedangkan laki-laki tidak. Tapi, masa itu pasti akan ditemui juga.

Karena khitan itu menular, adik ipar saya pernah juga ketularan. Ceritanya ketika menjadi siswa baru di sebuah SMP, pak gurunya adik ipar saya bertanya,”Siapa yang belum sunat (khitan)?” Adikku dengan pedenya tunjuk jari karena mengira masih banyak yang belum khitan, eeee, ternyata yang tunjuk jari cuma dia. Jadi sekelas sudah khitan semua kecuali dia. Bangga atau malu? Ya jelas malu ya, itu artinya dia anak yang penakut karena belum khitan. Hal ini menjadikan dia harus merengek pada orang tua untuk dikhitan pada liburan selanjutnya.

Karena khitan menular, maka saat ini karena tren umur tidak dibatasi dalam khitan, maka jangan heran bila anak TK sudah berani khitan. Beraninya anak untuk khitan bukan berarti dia benar-benar berani, tetapi karena terprovokasi temannya yang sudah pada khitan. Hal ini menjadi masalah tersendiri ketika berlangsungnya khitan. Ada-ada saja hambatannya, walau akhirnya bisa terlaksana tetapi harus dengan trik yang lebih rumit.

Beberapa contoh hambatannya akan saya ceritakan di sini. Tadi malam teman saya herus merayu hampir 1 jam untuk bisa mengkhitannya dalam keadaan tenang. Ketika teman saya datang, si anak malah muter terus, seperti lupa bahwa dia meminta sendiri pada sang ortu untuk dikhitan. Untungnya temanku sabar sehingga bisa menundukkan sang anak. Ada cerita lain, ketika khitan hampir gagal. Sejak awal sang anak sudah kelihatan takut, belum apa-apa sudah pucat berkeringat. Ketika suntik bius masuk yang pertama sang anak menjerit histeris, nangis sekuatnya. Ketika mau dilakukan suntikan kedua dia sudah trauma, takut sampai menggagalkan proses khitan. Cerita yang sejenis sudah sering terjadi, gagal di suntikan pertama. Sebetulnya bila di suntikan kedua sudah berhasil, maka prosesnya sudah mudah karena penis sudah mati rasa.

Ketika khitan gagal, tentunya akan menjadi masalah bagi orang tua. Kalau tradisi di Jawa, anak khitan itu kadang disertai acara syukuran, pesta kecil sampai besar. Bisa dibayangkan ketika undangan sudah menyebar sedangkan sang anak malah menggagalkan khitannya sendiri. Belum lagi bila sang anak sudah menerima amplop berisi uang sebelumnya. Haduh… Bebagai cara sering dilakukan orang tua agar khitan tidak sampai gagal total. Ada yang menuju rumah sakit minta dibius total, yang penting saat itu bisa dikhitan. Pernah ketika saya masih bekerja di IGD, harus melakukan khitan paksa, sang anak dipegang oleh beberapa orang biar tidak gerak, haduh… sulit juga sebetulnya tapi orang tuanya tetap menghendaki karena tidak mau menanggung malu.

Seperti itulah cerita bila anak belum berani khitan tetapi memaksakan diri untuk khitan. Semoga semau bisa mengambil keputusan di saat yang tepat, agar prosesnya mudah. Semoga tulisan ini bermanfaat.

gambar pinjam di http://www.nu.or.id

Iklan

36 thoughts on “Khitan yang Menular

  1. Pengalaman khitan Riza dl usia 3 tahun, bukan di dokter. Tapi di dukun sunat, dia masuk sendiri karena gak boleh ditemani. Gak lama keluar sudah sunat, tanpa nangis cuma keliatan kaget. Dan sembuhnya pun cuma 3 hari.
    Tapi teman seangkatannya masih berdarah darah sampai 12 hari.
    Sama tetangga tetangga dihubung hubungkan dengan mitos kalau nyunatin anak sebelum sembuh gak boleh berhubungan suami istri. Karena hasil sunat gak akan kering, menurut mereka. Jadilah, teman itu selain repot mengurus anak yg gak sembuh sembuh, juga tak enak hati karena jadi bahan gosip .

    Suka

  2. Jadi keinget waktu jadi panitia baksos sunat masal, adiknya buanyak yang nangis, waktu d bilang yang cepet diem dikasih hadiah eh banyak yg mulai diam, trus aku ktwa ktwa, salah satu adiknya ngelihatin trus bilang “mbak kok ktwa, sunat sakit loh, jngn d ktwain” dan aku tmbah ngakak sama tingkah mereka, lucuu bgt 😅

    Suka

  3. Baru tahu kalau khitan itu suntik biusnya dua kali Kang. Kenapa kok dua kali ya Kang, apakah obatnya beda?

    Keponakan saya dari dua sepupu mau khitan bareng. Karena seumuran. Tapi malah gagal Khitan yang satunya, karena waktu proses Khitan si A, si B ini melihat alatnya. Saat itu juga dia meronta ga mau. Akhirnya sampai sekarang dia malu ke orang2 karena gagal khitan.

    Suka

  4. beberapa waktu yang lalu baca artikel kalau usia khitan yg baik itu sebelum 6 bulan.

    saat beli nasi goreng, ada ibu2 yg cerita kalau anaknya mau minta dikhitan setelah lihat temennya dikhitan, tapi nggak dikabulin karena udah mau masuk sekolah dan belum ada persiapan

    Suka

    • Khitan pas masuk sekolah sebetulnya juga tidak apa apa, cuma tradisi kadang bicara lain, harus disiapkan jauh jauh hari karena berhubungan dengan dana. Tau sendiri sebagian masyarakat ada yang mengadakan kenduri untuk khitan walau sebetulnya hal ini tidak perlu.

      Suka

  5. Waah…singkatan Mantri Keliling kok jd Maling sih..ga enak amat..hehe…
    Keponakan saya maunya dikithan oleh mamahnya..setelah dibujuk-bujuk akhirnya mau juga oleh kolega mamanya..tp Sang mama harus ttp nungguin..hehe…

    Suka

    • Ini singkatan yang dibuat teman teman sendiri.. Walau ga enak tapi malah menjadi sebutan yang seru. Anak saya juga disunat teman saya, kalau sama bapaknya takutnya malah gagal karena anak berani manja. Kalau sama teman saya ga berani ngeluh, paling nangis sebentar saja

      Suka

  6. Sewaktu kecil saya juga termasuk yang takut kalau mau dikhitan. Berani khitan ya karena ada teman dekat yang mau dikhitan juga. Cuma berdua ke mantri, tapi bukan keliling. Mungkin sebutannya Madam alias Mantri yang Diam, hehe.

    Dua anak cowokku dikhitan mungkin lebih awal dibanding anak lain seumuran. Yang pertama disunat umur 4 tahun karena fimosis. Yang kedua baru beberapa bulan lalu setelah sakit juga. Memang betul, kalau bisa pas anak sudah siap agar prosesnya lancar. Apalagi bila teknnik bedahnya masih konvensional kayak anak kedua.

    Sunat nular memang. Enak banget dapet angpao 🙂

    Suka

  7. Saya disunat pas kelas 4 SD, mau naik kelas 5. Yang Kang Nur ceritakan persis sperti yang saya dengar. Katanya orang-orang angkatan dulu pada pergi sunat ketika seumuran SMP. Pergi disunatnya sendiri pula ahah…

    Mungkin memang lebih baik dikhitan sewaktu muda banget ya kang. Pas masih bayi. Nggak perlu dirayu sejam segala wkwk

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s