Jamaah Calon Haji dengan Hemodialisa Rutin tidak Bisa Berhaji

Sebuah video viral tentang Pak Ramli, jamaah calon haji yang gagal berangkat haji karena beliau menjalani hemodialisa rutin beredar cepat. Banyak yang menyayangkan kejadian ini, kenapa kegagalan itu terjadi ketika sudah berada di embarkasi, bisa jadi itu satu hari sebelum keberangkatan beliau ke tanah suci. Kenapa tidak digagalkan jauh-jauh hari?

Peraturan untuk jamaah calon haji dengan hemodialisa tidak bisa berangkat haji memang baru tahun kemarin diterbitkan permenkesnya. Tahun 2015 ke bawah masih banyak jamaah calon haji dengan hemodialisa bisa melaksanakan ibadah haji. Pada prakteknya memang banyak terjadi masalah ketika jamaah calon haji berada di tanah suci, terutama masalah penurunan kondisi kesehatan yang bisa berakibat pada keadaan yang mengancam jiwa pada kematian.

Melihat kasus Pak Ramli sebetulnya penolakan bisa dilakukan jauh-jauh hari. Ada yang mengatakan hal ini merupakan kesalahan dari pihak PPIH di daerah yang tidak menginformasikan jauh-jauh hari kepada jamaah calon haji. Namun, kesalahan ini tidak bisa dilimpahkan kepada satu pihak saja. Ada hal yang harus dicermati dari semua kejadian penggagalan keberangkatan jamaah calon haji.

Sebetulnya penggagalan jamaah calon haji bukanlah hal yang baru. Ada banyak kasus, karena tidak hanya jamaah calon haji dengan hemodialisa saja yang digagalkan. Penggagalan bisa dilakukan oleh Tim Penyelenggara Kesehatan Haji Kabupaten / Kota. Mengacu pada permenkes no 15 tahun 2016 tentang istitha’ah kesehatan jamaah haji pasal 6 disebutkan bahwa pemeriksaan kesehatan jamaah haji terdiri dari 3 tahap, yaitu :

  1. Pemeriksaan Kesehatan tahap pertama  dilaksanakan oleh Tim Penyelenggara Kesehatan Haji Kabupaten/Kota di puskesmas dan/atau rumah sakit pada saat jemaah Haji melakukan pendaftaran untuk mendapatkan nomor porsi.
  2. Pemeriksaan Kesehatan tahap kedua  dilaksanakan oleh Tim Penyelenggara Kesehatan Haji Kabupaten/Kota di puskesmas dan/atau rumah sakit pada saat pemerintah telah menentukan kepastian keberangkatan Jemaah Haji pada tahun berjalan.
  3. Pemeriksaan Kesehatan tahap ketiga  dilaksanakan oleh PPIH Embarkasi Bidang Kesehatan di embarkasi pada saat Jemaah Haji menjelang pemberangkatan.

Berdasarkan Pemeriksaan Kesehatan tahap pertama ditetapkan status kesehatan Jemaah Haji Risiko Tinggi atau tidak Risiko Tinggi. Kritria jamaah haji resiko tinggi atau tidak sudah tertulis di permenkes no.15 tahun 2016 sebagai pedoman. Bila pemeriksaan kesehatan dilakukan dengan seksama dan jamaah calon haji mau berterus terang dengan penyakitnya maka penolakan keberangkatan sudah bisa dilakukan di tahap pertama ini bila ternyata jamaah calon haji merupakan jamaah dengan hemodialisa rutin. Pemeriksaan kesehatan dilakukan sesuai protokol standar profesi kedokteran meliputi pemeriksaan medis dasar sebagai berikut : anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, penilaian kemandirian, dan tes kebugaran.

Berdasarkan pemeriksaan kesehatan tahap kedua ditetapkan status istitha’ah jemaah haji. Tahap ini jemaah haji resiko tinggi yang tidak memenuhi kriteria istitha’ah haji bisa langsung dilakukan pembatalan keberangkatannya. Istitha’ah kesehatan ialah mampu secara kesehatan jasmani dan rohani. Bisa saja ketika pemeriksaan tahap pertama jemaah haji masih sehat, karena lamanya waktu tunggu (waiting list) jemaah haji berubah status menjadi jemaah resiko tinggi yang tidak memenuhi kriteria istitha’ah haji. Keadaan jamaah bisa berubah 180º, ketika waktu tunggu lebih dari 15 tahun.

Namun kadang jemaah yang tidak memenuhi kriteria istitha’ah haji bisa lolos pada tahap ini, mengapa? Apakah team kesehatannya tidak tahu? Apakah team kesehatannya tidak melakukan prosedur pemeriksaan yang ditetapkan pemerintah? Bukan…. bukan itu. Team Kesehatan sudah melakukan prosedur pemeriksaan yang ditetapkan pemerintah, dan tahu kalau jemaah calon haji yang diperiksa tidak layak untuk berhaji dilihat dari sudut kesehatan. Di sinilah sering terjadi konflik antara jemaah calon haji dan petugas kesehatan. Jemaah calon haji tidak mau menerima keputusan team kesehatan dan tetap bersikukuh untuk berangkat haji, bagaimanapun keadaannya. Bila diberitahu tentang resiko kematian yang akan terjadi ketika nanti di tanah suci bukannya menyurutkan niat, tapi malah seperti menjadi cita-cita dan impian bisa mati di tanah suci karena akan dijamin syurga. Benarkah demikian? Abu Jahal saja yang mati di tanah Arab tetap masuk neraka.

Menanggapi hal seperti itu team kesehatan haji kabupaten / kota kadang tidak mau dijadikan rame, dengan berat hati akan memberikan status layak istitha’ah, sehingga jamaah calon haji bisa lolos sampai embarkasi. Nah… di embarkasi ini sudah tidak bisa tawar menawar lagi. PPIH Kesehatan embarkasi biasanya tegas, tetap menggagalkan walaupun diancam dan diintimidasi sekalipun. Sebetulnya pemeriksaan tahap ketiga ini hanya menentukan jamaah calon haji layak terbang atau tidak, tetapi karena adanya kasus yang tidak masuk istitha’ah haji masih bisa lolos tugasnya menjadi dobel. Semua jamaah diperiksa lagi termasuk petugasnya.


Baca juga : Permenkes no 15 tahun 2006 tentang istitha’ah kesehatan jemaah haji


Lalu, seberapa beresikonya sehingga jamaah calon haji dengan hemodialisa sampai terjadi penggagalan keberangkatannya. Saya akan menjelaskan secara umum, hemodialisa adalah proses pembersihan darah dari akumulasi hasil metabolisme tubuh seperti ureum dan zat beracun lainnya. Hemodialisis diindikasikan bagi pasien dengan tahap akhir gagal ginjal atau pasien berpenyakit akut yang membutuhkan dialysis waktu singkat (DR. Nursalam M. Nurs, 2006) atau beberapa bentuk keracunan (Christin Brooker, 2001). Frekuensi hemodialisa bervariasi, tergantung kepada banyaknya fungsi ginjal yang tersisa, tetapi sebagian besar penderita menjalani hemodialisa sebanyak 2-3 kali/minggu, dengan waktu 4-5 jam per tindakan. Tindakan hemodialisa merupakan tindakan yang wajib terhadap pasien gagal ginjal stadium akhir.

Tindakan hemodialisa tidak dapat digantikan dengan obat-obatan. Tindakan hemodialisa merupakan kebutuhan pokok bagi penderita gagal ginjal stadium akhir, karena mesin hemodialisa merupakan pengganti ginjal dari pasien gagal ginjal. Sekali lagi… pengganti ginjal, bukan mengobati ginjal yang telah rusak.

Efek keterlambatan tindakan hemodialisa adalah akan menumpuknya zat-zat beracun dalam tubuh yang mengakibatkan kondisi melemah, mual, muntah, pusing, hingga penurunan kesadaran. Juga bisa terjadi penumpukan cairan dalam tubuh, yang apabila terjadi di paru bisa menimbulkan sesak nafas, bahkan kesulitan bernafas yang bisa berakibat pada kematian. Keseimbangan asam basa dalam tubuh juga bisa terganggu, menyebabkan kondisi asam yang berlebihan juga bisa mengakibatkan pada kematian. Bisa juga terjadi peningkatan kalium yang dinamakan hyperkalemia, kondisi ini bisa mengakibatkan peningkatan denyut jantung hingga terjadi kelelahan pada jantung sehingga denyut jantung berhenti mendadak… dan bisa dipastikan kondisi manusia bila jantung berhenti berdenyut.

Kondisi di atas sangat bisa terjadi ketika di arab saudi pada waktu musim haji. Meskipun pemerintah Arab Saudi berani menjamin kebutuhan kesehatan seluruh jamaah haji, bukan berarti jamaah haji dengan hemodialisa akan dengan mudah mendapatkan jadwal hemodialisa secara rutin. Jangankan 3 x seminggu, 1x seminggu saja belum tentu dapat. Padahal hemodialisa merupakan kebutuhan pokok yang harus terpenuhi dengan rutin. Bisa dibayangkan bila hal ini terjadi, berbagai efek karena keterlambatan hemodialisa bisa saja terjadi, bahkan mungkin bisa berefek pada kematian.

Ada beberapa jemaah haji yang ditetapkan tidak memenuhi syarat istithaah kesehatan haji :

  1. Kondisi klinis yang dapat mengancam jiwa, antara lain Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) derajat IV, Gagal Jantung Stadium IV, Chronic Kidney Disease Stadium IV dengan peritoneal dialysis/hemodialisis reguler, AIDS stadium IV dengan infeksi oportunistik, Stroke Haemorhagic luas;
  2. Gangguan jiwa berat antara lain skizofrenia berat, dimensia berat, dan retardasi mental berat;
  3. Jemaah dengan penyakit yang sulit diharapkan kesembuhannya, antara lain keganasan stadium akhir, Tuberculosis Totaly Drugs Resistance (TDR), sirosis atau hepatoma decompensata.

Bila terjadi hal di atas, lebih baik segera laporkan kepada team kesehatan kabupaten, jangan disembunyikan. Lebih baik segera dibatalkan sejak awal, daripada nantinya terjadi seperti kasus Pak Ramli. Sudah nabung lama, sudah pamitan ke sanak saudara, ternyata gagal berangkat. Ikuti saja aturan dari pemerintah, karena aturan dibuat demi kemaslahatan bersama.

Semoga bermanfaat.

Iklan

10 thoughts on “Jamaah Calon Haji dengan Hemodialisa Rutin tidak Bisa Berhaji

  1. Pembelajaran bersama ya Kang, meski tidak tega mendengarnya. Kerjasama apik antara petugas dan pemahaman calon peserta demi kebaikan bersama.
    Mohon info adakah set haemodialisa yg bersifat portable. Salam

    Suka

    • Sementara belum ada mbak…. Yang ada itu cuci darah capd… Yaitu cuci darah melalui membran perut. Membran perut diisi cairan tertentu sebagai penarik cairan dan racun seperti ginjal. Tapi dengan metode inipun tidak diijinkan untuk berhaji karena harus membawa cairan yang cukup banyak… Bisa puluhan liter

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s