Miqat Ihram bagi Jamaah Calon Haji Gelombang 2

Permasalahan miqat ihram untuk jamaah calon haji gelombang 2 bagi jamaah asal Indonesia selalu terjadi perbedaan. Bila mengikuti Kemenag, maka miqat ihram akan dilakukan di Jeddah, yaitu di Bandara King Abdul Aziz. Permasalahan ini sudah berlangsung sejak lama dan selalu menjadi polemik yang tak kunjung usai. Satu sisi Jeddah bukanlah tempat miqat yang dianjurkan Rasulullah tapi di sisi lain Kemenag selalu kuat berpegangan pada fatwa MUI tentang bolehnya Jeddah sebagai miqat.

Miqat ( ميقات‎) adalah batas bagi dimulainya ibadah haji dan umrah (batas-batas yang telah ditetapkan). Apabila melintasi miqat, seseorang yang ingin mengerjakan haji perlu mengenakan kain ihram dan melafalkan niat. Miqat terdiri dari dua jenis, yaitu :


Miqat Zamani (ﻣﻴﻘﺎﺕ ﺯﻣﺎﻧﻲ) : batas yang ditentukan berdasarkan waktu.

Bagi haji, miqat bermula pada bulan Syawal sampai terbit fajar tanggal 10 Zulhijah yaitu ketika ibadah haji dilaksanakan. Sedangkan bagi umrah, miqat zamani bermula pada sepanjang tahun pada waktu umrah dapat dilakukan.


Miqat Makani (ﻣﻴﻘﺎﺕ ﻣﻛﺎﻧﻲ) – batas yang ditentukan berdasarkan tempat. Apabila melewati batas miqat ini, maka orang yang akan melaksanakan umrah dan haji harus memakai ihram dengan sebelumnya melafalkan niatnya. Untuk miqat makani ini setiap penduduk negeri yang mengunjungi tanah suci Makkah mempunyai tempat sendiri-sendiri, tergantung darimana ia akan memasuki tanah suci Makkah. Adapun miqat makani terbagi dalam beberapa tempat, yaitu :

  1. Bagi mereka yang tinggal di Makkah, tempat untuk ihram haji adalah Makkah itu sendiri (rumah sendiri). Untuk umrah ialah keluar dari tanah haram Makkah yaitu sebaiknya di Ji’ranah, Tan’eim atau Hudaibiyah.
  2. Bagi mereka yang datang dari Yaman tempatnya adalah di Yalamlam (ﻳﻠﻣﻠﻢ). Jarak dari Makkah sekitar 92 km. Bagi yang berhaji menggunakan kapal laut, biasanya juga bermiqat dari Yalamlam. Dari wilayah India, Pakistan, Jepang, Cina dan sekitarnya juga bermiqat dari Yalamlam.
  3. Bagi yang datang dari barat seperti Mesir, miqatnya di Juhfah (ﺟﺤﻔﻪ). Jarak dari Makkah sekitar 183 km. Ibnu Taimiyah berkata, al Juhfah adalah miqat bagi orang yang berhaji dari negeri Maghrib (barat) seperti penduduk Syam atau Suriah, Mesir , Maroko. Sekarang tempat ini sudah tak berbekas, oleh karena itu orang-orang kemudian memulai ihram dari tempat sebelumnya yang dinamakan Rabigh.
  4. Bagi yang datang dari Najed atau Riyadh, tempat untuk berihram adalah Qarnul Manazil (ﻗﺮﻦﺍﻠﻣﻨﺎﺯﻝ). Jarak dari Mekkah sekitar 75 km. Dinamakan juga dengan Qarnuts Tsa’alib.
  5. Bagi yang datang dari Madinah, tempatnya di Dzulhulaifah Bir Ali (Abyar ‘Ali) (ﺫﻭﺍﻟﺣﻠﻴﻔﻪ ﺍﺑﻳﺎﺭ ﻋﻠﻲ). Dzulhulaifah merupakan miqat yang paling jauh, jaraknya sekitar 450 km dari kota Makkah. Jarak dari kota Madinah sekitar 9 km. Tempat ini dinamakan juga wadi al aqiq (lembah al-aqiq), dan masjidnya dinamakan masjid Asy Syajarah. Di sana terdapat sumur yang oleh orang orang awam dinamakan bi’r Ali (sumur Ali) karena mereka menyangka bahwa Ali pernah membunuh jin di sana, padahal itu hanya hoax saja.
  6. Bagi yang datang dari bahagian Iraq pula adalah di Dzatu ‘Irqin (ﺫﺍﺕ ﻋﺮﻕ). Dzatu irqin adalah suatu tempat di pedalaman padang pasir yang merupakan pemisah antara daerah Najed dan Tihamah. Jaraknya sekitar 94 km dari kota Makkah.

Titik merah merupakan titik miqat, bisa dipilih darimana tempat masuknya, yang jelas ketika melewati titik merah yang merupakan tempat miqat, maka para jamaah calon haji wajib memakai ihram dan berniat ihram.


Lalu, untuk jamaah calon haji Indonesia, di manakan tempat miqatnya? Inilah yang sejak lama menjadi polemik. Jamaah haji asal Indonesia dibagi 2 gelombang dalam hal keberangkatannya ke tanah suci. Gelombang pertama yaitu Jamaah calon haji berangkat dari Tanah air langsung menuju Madinah dan tinggal di sana sekitar 8 hari. Untuk selanjutnya akan berhaji menuju Makkah, dan karena sudah 8 hari menetap di Madinah maka untuk miqat ihramnya dimulai di Dzul Hulaifah, yaitu miqat ihramnya penduduk Madinah.

Jamaah calon haji gelombang 2 adalah jamaah calon haji yang berangkat dari tanah air langsung menuju ke tanah suci Makkah. Pada jaman dulu, jamaah calon haji asal Indonesia bila berangkat haji menggunakan armada kapal laut, dan berlabuh di tempat yang bukan tanah haram. Sehingga mereka bisa berihram dari tempat miqat mana yang akan mereka lewati. Tapi sejak jamaah calon haji asal Indonesia mulai memakai pesawat terbang sebagai armada menuju ke tanah suci, maka hal ini mulai menjadikan polemik. Yang menjadi masalah adalah tempat berlabuh pesawat di Saudi Arabia adalah di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, yang mana ketika masih berada di pesawat akan melewati miqat di Yalamlam atau Qarnul Manazil. Sedangkan Jedah sudah lewat dari miqat.

Dari peta di atas bisa dilihat bahwa Jeddah berada di sebelah barat Makkah, sedangkan perjalanan dari Indonesia bukan melewati barat Makkah, akan tetapi dari tenggara. Ada kemungkinan pesawat akan melewati Yalamlam, Qarnul manazil atau malah Dzatu irqin, sehingga bila melewati miqat itu harus berihram dan berniat untuk ihram. Bila kita mengikuti manasik haji yang dilakukan di bawah bimbingan kemenag, maka akan dianjurkan untuk berihram dari Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Kali ini kemenag memakai dasar dari fatwa MUI tahun 1980, 1981 dan 2006 tentang bolehnya mengambil miqat ihram di Jeddah. Fatwa ini jelas-jelas bertentangan dengan penetapan tempat miqat yang dicontohkan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Fatwa ini juga bertentangan dengan jumhur ulama.

Entahlah… Saya kurang paham mengenai penyebab lahirnya fatwa ini. Ada yang mengatakan lahirnya fatwa ini karena sulitnya berganti baju ihram ketika di pesawat, karena tentunya sangat menyusahkan bila dalam waktu serempak semua jamaah calon haji melakukan pergantian baju ihram di pesawat. Bila pergantian baju ihram dilakukan di tanah air tentunya juga bukan solusi yang tepat karena jaraknya masih sangat-sangat jauh dari tempat miqat. Maka MUI dengan berbagai pertimbangan akhirnya menetapkan Bandara Jeddah sebagai tempat miqat bagi jamaah calon haji Indonesia, dan fatwa ini diamini oleh kemenag sampai sekarang.


Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar tentang keabsahan fatwa ini ditinjau dari syariat, karena ini bukan bidang saya, cuma saya mau berbagi pengalaman saja tentang bagaimana para jamaah calon haji asal Indonesia mengambil miqat mereka. Yang pertama tentunya ada jamaah calon haji yang berniat ihram dari Bandara Jeddah. Mereka dari Indonesia tetap memakai pakaian biasa, ketika pilot menyatakan bila 20 menit lagi sampai di yalamlam mereka tetap dengan pakaian berjahit mereka.

Sedangkan yang kedua adalah yang berniat ihram dari Yalamlam atau Qarnul manazil. Mereka dari embarkasi, bagi jamaah perempuan sudah memakai baju ihram, karena baju ihram perempuan lebih simpel. Jamaah laki-laki sudah memakai kain ihram, tapi bawahannya saja, untuk atasan tetap memakai baju yang berjahit. Untuk celana dalam sudah dilepas sekalian. Sebelumnya mereka sudah melakukan mandi untuk ihram. Bila sudah ada pengumuman dari pilot tentang jarak miqat, maka semua bersiap-siap dan menjelang melewati miqat semua yang berjahit dilepas, tinggal memakai kain ihram atasan sambil melafalkan niat ihram. Semua bisa dilakukan dengan serempak, tanpa kekacauan yang berarti, kemudian melakukan shalat 2 rakaat di pesawat. Aman… tidak ada kerepotan yang berarti seperti yang dikhawatirkan MUI.

Itu adalah sepotong kisah perjalanan ke tanah suci yang membuat saya sebagai petugas jadi iri pada jamaah. Iya… saya ingin berihram dari atas Yalamlam, tapi karena saya petugas, maka saya wajib berihram dari Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Saya harus mengutamakan keselamatan jamaah bukan mengutamakan ibadah haji saya sendiri.


Dengan melihat kenyataan ini tentunya jamaah calon haji bisa memilih pendapat yang paling kuat, silakan memilih pendapat yang mendekati Sunnah Rasul. Semoga tulisan ini bermanfaat.

6 respons untuk ‘Miqat Ihram bagi Jamaah Calon Haji Gelombang 2

  1. Wah …saya malah baru tahu kalau jemaah haji Indonesia gelombang II ternyata agak bingung Miqatnya ya pak Haji,
    Kalau yang gelombang I kan gampang saja dr Dzul Hulaifah,karena dianggap sbg penduduk Madinah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.