Solusi Pembagian Kulit Hewan Qurban

Sudah lazim di Indonesia bila penyembelihan hewan qurban tidak dilakukan secara pribadi, tapi diserahkan kepada panitia di masjid atau lembaga lain seperti sekolah, perusahaan dan lain-lain. Penyembelihan dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat sekitar sebagai wujud gotong royong. Juga pembagian daging qurban bisa dilakukan secara merata karena peran dari gotong royong antara panitia dan masyarakat sekitar.

Bila semua dilandasi niatan amal shaleh dan mengharap ridha Allah semata, maka pembagian daging kurban tidak akan terjadi pertentangan. Kalaupun ada, paling hanya perbedaan pendapat yang kecil saja, dan itu bisa diatasi dengan baik. Permasalahan yang lebih besar sebetulnya malah berada pada hal pengelolaan kulit hewan qurban. Karena kurangnya pengetahuan panitia terhadap hukum-hukum agama Islam, seringkali pengelolaan kulit bertentangan dengan hukum Islam. Apalagi bila jumlah hewan Qurban sangat banyak, bisa membuat kulit menumpuk banyak, sehingga sangat memusingkan bagi panitia untuk mengelolanya. Biasanya solusinya ya dijual, karena saat itu pedagang kulit hewan akan mendatangi tempat-tempat penyembelihan hewan qurban untuk membelinya.

Menurut pengamatan saya, pengelolaan kulit dari berbagai daerah ada berbagai cara. Ketika saya di Pacitan dulu, warga di sana biasa mengelola hewan qurban dengan cara menghilangkan rambut hewan dulu. Hewan qurban dibakar di perapian, kulit dibersihkan dari rambut yang melekat sampai bersih. Ketika sudah bersih dari rambut, maka hewan qurban baru dikuliti, dipisahkan daging dari tulang dan jerohan juga dibersihkan. Hewan qurbqn dibagi semuanya, termasuk kulitnya. Kulit dipotong-potong kecil, selanjutnya dibagikan bersama daging, tulang dan yang lainnya. Pengelolaan kulit hewan qurban yang seperti ini tentunya tidak melanggar syariat, meskipun sebenarnya ini berawal dari tradisi. Tradisi di sana selalu sepeerti it sejak dulu, turun temurun sampai sekarang.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya. Saya menemui ada cara pengelolaan kulit hewan qurban yang tidak sesuai syariat. Pada beberapa tempat saya melihat panitia tidak mau ambil pusing dengan pembagian kulit ini. Mungkin karena panitia belum tahu ilmunya, sehingga menganggap apa yang dilakukan selama ini adalah benar adanya. Hal ini sering terjadi di tempat penyembelihan hawan qurban dengan jumlah yang banyak. Biasanya pada saat itu berkeliaran para pembeli kulit, gonta ganti menawar harga. Bila harga cocok, maka panitia akan menyetujui kulit hewan qurban dijual. Trus… uang hasil penjualan kulit hewan qurban akan dikemanakan?

Sebetulnya, apa yang dilakukan panitia tidaklah diniatkan untuk keburukan. Uang hasil penjualan kulit hewan qurban tidak masuk kantong pribadi, tetapi tetap menjadi milik bersama. Ada yang dijadikan khas masjid, ada yang dipakai untuk operasional biaya saat qurban. Yang sedikit nyleneh, ada yang digunakan untuk memebeli daging untuk kemudian dipakai makan-makan ketika pengajian. Ada juga yang nyleneh, dengan dibelikan kambing lagi, kemudian disembelih, juga untuk makan-makan ketika pengajian. Cara-cara ini meskipun sekilas terlihat baik akan tetapi menyelisihi dengan apa yang telah Rasulullah contohkan.

Yang lebih bertentangan dengan sunnah Rasul adalah menjadikan kulit sebagai upah jagal. Biasanya ditambah dengan kepala hewan qurbannya. Sepintas hal ini akan menyelesaikan masalah pada pihak panitia karena tidak akan susah-susah mengurusi permasalahan ini. Di samping itu, panitia tidak mengambil iuran uang yang terlalu besar untuk membayar upah jagal, karena sudah dihandle dari kulit dan kepala. Hal ini jelas sekali bertentangan dengan sunnah Rasul dan harus benar-benar dihindari.

Dalilnya, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ ، وَأَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا ، لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا ] فِى الْمَسَاكِينِ[  ، وَلاَ يُعْطِىَ فِى جِزَارَتِهَا شَيْئًا

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan dia untuk mengurusi unta-unta hadyu. Beliau memerintah untuk membagi semua daging qurbannya, kulit dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin) untuk orang-orang miskin. Dan beliau tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun dari qurban itu kepada tukang jagal (sebagai upah).

 HR. Bukhari no. 1717 dan Muslim no. 1317.

Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) mengatakan,  “Hasil sembelihan qurban dianjurkan dimakan oleh shohibul qurban. Sebagian lainnya diberikan kepada faqir miskin untuk memenuhi kebutuhan mereka pada hari itu. Sebagian lagi diberikan kepada kerabat agar lebih mempererat tali silaturahmi. Sebagian lagi diberikan pada tetangga dalam rangka berbuat baik. Juga sebagian lagi diberikan pada saudara muslim lainnya agar semakin memperkuat ukhuwah.”

Dalam fatwa lainnya, Al Lajnah Ad Da-imah menjelaskan bolehnya pembagian hasil sembelihan qurban tadi lebih atau kurang dari 1/3. Mereka menjelaskan, “Adapun daging hasil sembelihan qurban, maka lebih utama sepertiganya dimakan oleh shohibul qurban; sepertiganya lagi dihadiahkan pada kerabat, tetangga, dan sahabat dekat; serta sepertiganya lagi disedekahkan kepada fakir miskin. Namun jika lebih/ kurang dari sepertiga atau diserahkan pada sebagian orang tanpa lainnya (misalnya hanya diberikan pada orang miskin saja tanpa yang lainnya, pen : rumaysho.com), maka itu juga tetap diperbolehkan. Dalam masalah ini ada kelonggaran.”

Sumber : https://rumaysho.com/1965-pembagian-sepertiga-dari-hasil-qurban.html

Solusi untuk kulit kurban sudah bisa kita baca dari hadits di atas yaitu bagikan kepada orang miskin. Biarlah orang miskin yang akan memanfaatkannya, mau dijual atau dijadikan rambak atau yang lainnya terserah yang menerima. Kalau untuk kulit sapi yang berserikat dengan tujuh orang, biarlah tujuh orang yang punya qurban menunjuk satu persatu orang miskin yang akan diberi kulit, berikan satu kulit untuk tujuh orang, biar selanjutnya tujuh orang itu yang memanfaatkan, mau dijual atau dijadikan makanan biar diurusi oleh tujuh orang penerima. Jangan ada rasa iri karena orang yang diberi akan mendapatkan uang dalam jumlah yang lumayan, ikklaskan semua karena Allah subhanahu wa taala, niscaya tidak akan ada pertentangan.

Semoga solusi ini bisa membawa manfaat, atau mungkin ada solusi yang lebih baik bisa ditulis di kolom komentar.

 

6 respons untuk ‘Solusi Pembagian Kulit Hewan Qurban

  1. idanursilawati berkata:

    Betul kang, setiap tahun kulit selalu di jual.
    Di tempat saya malah plus kepala, kaki dan buntut pun ikut dijual. Dan keterangan resmi uangnya dikemanakan tidak ada. Menurut berita ada yang dibagi untuk panitia malah ada lagi yg bilang uangnya masuk kantong RT.
    Jika pengelolaan seperti itu, apa bagi yang berqurban tetap sah kang?

    Suka

      • idanursilawati berkata:

        Nah Qurban tahun ini malah lbh aneh . Karena jeroan dan tulang yang biasanya ikut dibagikan juga gak ada. Saya gak tahu awalnya, tapi pas ada tetangga yang bilang cuma daging saja dapatnya. Jeroan sama tulang entah kemana. Mau ditanyain kesannya merecoki dan kayak gak ikhlas.
        Mungkin tahun depan mau sendiri saja gak gabung sama panitia masjid kalau begini.

        Suka

        • Iya bu… Om saya tiap tahun qurbannya dikelola sendiri bu…semua bisa dibagi, ke tetangga, saudara, bahkan sampai keuarga karyawannya di pelosok pelosok kebagaian juga.

          Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.